
LNARASITODAY.COM, BOGOR– Di tengah upaya pemerintah memperluas jangkauan program Makan Bergizi Gratis (MBG), kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leuwiliang 5 menjadi salah satu contoh penguatan layanan berbasis masyarakat di wilayah Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Kamis (9/04/2026).
Berlokasi di Kampung Kandang Sapi RT 02 RW 01, Desa Leuwimekar, SPPG ini resmi diluncurkan melalui kegiatan launching dan tasyakuran yang turut dihadiri unsur Muspika Kecamatan Leuwiliang.
Kehadirannya tidak hanya menjadi simbol dimulainya operasional dapur gizi, tetapi juga mencerminkan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat.
Kepala SPPG Leuwiliang 5, Albertus, menegaskan bahwa operasional dapur harus berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Ia menyebutkan, kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas layanan.
“Setiap dapur SPPG wajib mematuhi SOP yang telah ditetapkan. Kami juga terus mendorong para relawan untuk bekerja dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.
Selain aspek kedisiplinan, kebersihan dan higienitas menjadi perhatian utama dalam pengelolaan dapur.


Hal ini penting untuk memastikan makanan yang dihasilkan aman dan layak dikonsumsi oleh para penerima manfaat.
SPPG Leuwiliang 5 saat ini didukung oleh 47 relawan yang telah ditetapkan oleh BGN.
Para relawan tersebut tidak langsung bekerja tanpa persiapan, melainkan telah menjalani simulasi terkait seluruh tahapan operasional, mulai dari persiapan bahan, proses pengolahan, hingga distribusi makanan.
Dari sisi jangkauan, dapur ini menargetkan lebih dari 1.000 penerima manfaat pada tahap awal.
Jumlah tersebut direncanakan meningkat hingga lebih dari 2.500 penerima pada tahap berikutnya.
Untuk memastikan program berjalan optimal, pengawasan juga akan diperketat guna meminimalkan potensi kendala di lapangan.
“Jika nantinya ada permasalahan, kami akan segera melakukan evaluasi dan mencari solusi agar pelayanan tetap berjalan dengan baik,” kata Albertus.
Dari aspek kesehatan, perwakilan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr. James, memberikan apresiasi terhadap peningkatan kualitas fasilitas SPPG Leuwimekar 5.
Ia menilai adanya perbaikan signifikan dibandingkan dapur sebelumnya, terutama pada bagian infrastruktur yang lebih higienis.
“Ada perubahan pada struktur bangunan, seperti lantai yang tidak dapat ditembus air, sehingga tidak berpotensi menyimpan bakteri. Ini menjadi nilai tambah dari sisi kesehatan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Leuwimekar, May Sumarno, melihat keberadaan SPPG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi, tetapi juga pada aspek sosial ekonomi masyarakat.
Dari total rencana 12 dapur SPPG di wilayahnya, saat ini baru lima yang telah aktif beroperasi.
Menurutnya, kebijakan yang memprioritaskan warga setempat sebagai relawan memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja dan pengurangan angka pengangguran.
“Alhamdulillah, kehadiran SPPG ini sangat membantu. Selain mendukung program MBG, juga membuka peluang kerja bagi warga lokal,” ungkapnya.
Dengan konsep berbasis komunitas, SPPG Leuwimekar 5 tidak hanya menjadi dapur produksi makanan bergizi, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan masyarakat.
Ke depan, keberlanjutan program ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi dalam menjaga standar, kualitas, serta sinergi antar pihak yang terlibat.
Wartawan : Andreas












