NARASITODAY.COM, JAKARTA – Upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mempertahankan sektor pariwisata membuat sejumlah negara menerapkan kebijakan yang terbilang tidak biasa. Meski terdengar nyeleneh, langkah-langkah ini justru menjadi bagian dari strategi besar menuju wisata berkelanjutan.
Berikut lima negara dengan kebijakan unik tersebut:
1. Jepang: Batasi Pendaki Gunung Fuji

Jepang mengambil langkah tegas dengan membatasi jumlah pendaki di Gunung Fuji. Selain itu, wisatawan juga dikenakan biaya masuk. Kebijakan ini bertujuan mengurangi kerusakan lingkungan serta menekan jumlah sampah yang ditinggalkan para pendaki.
2. Italia: Denda Duduk Sembarangan di Tempat Wisata

Di beberapa kota wisata seperti Roma dan Venesia, wisatawan bisa dikenai denda jika duduk sembarangan di tangga atau area bersejarah. Aturan ini dibuat untuk menjaga kebersihan serta melindungi situs budaya dari kerusakan akibat overtourism.
3. Thailand: Tutup Pantai Secara Berkala

Thailand menutup beberapa pantai populer secara berkala, seperti Maya Bay. Penutupan ini memberi waktu bagi ekosistem laut untuk pulih dari kerusakan akibat aktivitas wisata yang berlebihan.
4. Islandia: Larangan Menginjak Lumut

Pemerintah Islandia melarang wisatawan menginjak lumut yang tumbuh di alam liar. Lumut tersebut membutuhkan waktu puluhan tahun untuk tumbuh kembali, sehingga perlindungan ekstra dianggap penting untuk menjaga ekosistem.
5. Bhutan: Tarif Wisata Harian Mahal

Bhutan menerapkan tarif wisata harian yang cukup tinggi bagi turis asing. Kebijakan ini bertujuan membatasi jumlah wisatawan sekaligus memastikan bahwa pariwisata memberikan dampak ekonomi yang berkualitas tanpa merusak lingkungan.
Meski terlihat tidak biasa, kebijakan-kebijakan tersebut menunjukkan keseriusan negara-negara dalam menjaga keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan. Dengan meningkatnya kesadaran global terhadap perubahan iklim, langkah-langkah seperti ini diperkirakan akan semakin banyak diterapkan di masa depan.
Wisata berkelanjutan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Dan terkadang, kebijakan “nyeleneh” justru menjadi solusi paling efektif.***
Editor : Alysa
Sumber : idntimes.com














