NARASITODAY.COM, MANCHESTER – Angin perubahan kembali berembus di Teater Impian. Setelah lebih dari dua dekade mencengkeram kepemilikan Manchester United FC (MU), beberapa anggota keluarga Glazer dikabarkan mulai menimbang opsi untuk menjual saham mereka.
Kabar mengejutkan ini pertama kali ditiupkan oleh Bloomberg News pada Rabu (3/6/2026). Mengutip sumber-sumber yang memahami masalah tersebut, beberapa pemegang saham dalam dinasti miliarder asal Amerika Serikat (AS) itu dilaporkan telah mempelajari kemungkinan untuk melepaskan sebagian atau bahkan seluruh kepemilikan mereka di klub raksasa Liga Premier Inggris tersebut.
Rumor ini langsung memicu reaksi instan di lantai bursa. Pasca-laporan tersebut beredar, saham MU yang terdaftar di bursa New York langsung melonjak 7% dalam perdagangan setelah jam tutup bursa (after-hours trading).
Gejolak Internal dan Warisan Utang
Di balik dinding ruang rapat, sebuah drama keluarga tampaknya sedang terjadi. Menurut laporan yang sama, pembicaraan internal awalnya hanya berpusat pada rencana penjualan saham oleh beberapa anggota keluarga saja. Namun, faksi ini sekarang sedang berupaya keras meyakinkan anggota keluarga Glazer lainnya untuk ikut bergabung melepaskan aset mereka.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Manchester United tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters, sementara keluarga Glazer juga belum dapat dihubungi untuk memberikan pernyataan resmi.
Bagi para pendukung setia Setan Merah, kabar ini bak oase di tengah gurun. Selama bertahun-tahun, kepemilikan keluarga Glazer kerap diwarnai protes keras dan spanduk kemarahan dari para fans.
Mereka dinilai telah membebani klub dengan utang yang menumpuk, melakukan pengeluaran berlebihan yang tidak efektif untuk transfer pemain, serta menunda-nunda investasi penting pada infrastruktur klub, termasuk modernisasi Stadion Old Trafford.
Era Transisi Bersama Ratcliffe
Langkah terbaru keluarga Glazer ini muncul lebih dari dua tahun setelah mereka menjual sekitar 29% saham klub kepada Ketua Grup INEOS, Sir Jim Ratcliffe. Investasi Ratcliffe kala itu tidak hanya menyuntikkan dana segar, tetapi juga memberinya kendali penuh atas operasional sepak bola MU.
Sejak masuk, Ratcliffe telah mengambil berbagai langkah agresif untuk membangkitkan kembali kejayaan MU yang sempat meredup. Langkah-langkah tersebut termasuk pemangkasan jumlah karyawan demi efisiensi, hingga kebijakan kontroversial seperti menaikkan harga tiket pertandingan.
Di atas lapangan hijau, Manchester United perlahan mulai menemukan kembali tajinya setelah bertahun-tahun terseok-seok menyamai era keemasan Sir Alex Ferguson. Di bawah asuhan manajer Michael Carrick, MU berhasil finis di posisi ketiga musim ini sebuah pencapaian krusial yang mengamankan tiket kembali ke kompetisi kasta tertinggi Eropa, Liga Champions, untuk pertama kalinya dalam dua musim terakhir.
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh LSEG pada Rabu (3/6/2026), saham MU ditutup di angka US$ 21,11. Angka ini menempatkan valuasi total dari klub yang bermarkas di Old Trafford tersebut berada di kisaran US$ 3,64 miliar (sekitar Rp 59,4 triliun). Jika sisa saham keluarga Glazer benar-benar dilepas, maka Manchester United resmi bersiap membuka lembaran sejarah yang sepenuhnya baru.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id














