
NARASITODAY.COM,PYONGYANG – Dari balik dinding-dinding kokoh ibu kota paling tertutup di dunia, sebuah pesan dingin kembali dikirimkan ke panggung politik global. Korea Utara memastikan tidak akan pernah menurunkan hulu ledak nuklirnya demi menyenangkan negara-negara Barat.
Ketegasan tanpa kompromi ini disuarakan oleh Kim Yo-jong, saudari kuat dari pemimpin tertinggi Kim Jong-un sekaligus perempuan yang kerap menjadi corong utama kebijakan luar negeri garis keras Pyongyang.
Sikap konfrontatif ini muncul sebagai respons langsung atas tekanan terbaru dari negara-negara maju yang tergabung dalam Kelompok Tujuh (G7). Melalui komunike bersama dalam pertemuan puncak mereka di Evian-les-Bains, Prancis, para pemimpin G7 kembali mendesak pembongkaran total program nuklir Korea Utara demi mematuhi resolusi Dewan Keamanan PBB. Namun bagi Pyongyang, desakan tersebut tak lebih dari angin lalu.
Melalui media resmi pemerintah, Kim Yo-jong menegaskan bahwa persenjataan pemusnah massal tersebut adalah tameng mutlak bagi kelangsungan hidup negaranya.
“Senjata nuklir adalah sarana ampuh untuk mempertahankan kedaulatan dan landasan untuk menjamin perdamaian, sebagaimana didefinisikan oleh hukum DPRK,” kata Kim Yo-jong dalam pernyataan yang disiarkan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), Kamis (18/6/2026).
Ia juga menambahkan dengan nada sarkas bahwa persenjataan nuklir yang dimiliki Korea Utara saat ini merupakan “sarana untuk membela diri”.
Tuntutan Barat Dinilai Sudah Usang
Di mata rezim Kim Jong-un, geopolitik global telah bergeser dan tuntutan denuklirisasi yang terus-menerus disuarakan oleh Amerika Serikat beserta sekutunya kini dinilai sudah tidak relevan lagi dengan realitas di lapangan. Kim Yo-jong menyebut agenda Barat itu sebagai sesuatu yang “sudah final dan tidak dapat diubah” dalam arti bahwa impian dunia melihat Korea Utara tanpa nuklir tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Secara hukum domestik, status Korea Utara sebagai kekuatan nuklir global diklaim telah terkunci rapat dan bertransformasi menjadi garis merah yang tidak boleh dilewati oleh negara mana pun.
Menutup pernyataannya, sosok wanita paling berpengaruh di lingkaran kekuasaan Pyongyang ini melayangkan ancaman terbuka yang berisiko memicu ketegangan baru di kawasan Semenanjung Korea bagi siapa saja yang berniat mengusik stabilitas dalam negeri mereka.
“Siapa pun yang mencoba merugikan kepentingan inti negara pemilik senjata nuklir akan membuat pilihan terburuk dengan mengundang bencana,” ujarnya.
Pernyataan terbaru ini menjadi bukti kesekian kalinya bahwa sanksi ekonomi berlapis dan isolasi internasional dari komunitas global gagal melunakkan Pyongyang. Alih-alih mundur, Korea Utara justru kian agresif memosisikan diri sebagai negara nuklir permanen demi menjamin keamanan nasionalnya.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com













