Erick Thohir Nilai Kemenangan Timnas U-17 atas Malaysia Belum Jadi Patokan

0
Timnas
Timnas Indonesia U-17.Foto : arena.indozone.id

NARASITODAY.COM,YOGYAKARTA – Kemenangan telak tiga gol tanpa balas yang diraih Timnas Indonesia U-17 atas rival abadi, Malaysia, dalam laga uji coba di Stadion Manahan, Surakarta, Selasa (7/7/2026), memang memantik euforia.

Namun, di mata Ketua Umum PSSI Erick Thohir, papan skor mentereng tersebut bukanlah akhir dari cerita, melainkan baru babak pembuka dari sebuah cetak biru panjang yang melelahkan.

Di tengah atmosfer kepuasan publik, Erick mengingatkan bahwa kemenangan skuad Garuda Muda ini belum bisa dijadikan tolok ukur kesuksesan yang sahih. Pasalnya, nakhoda anyar Timnas U-17, David Nascimento, tercatat baru seumur jagung menduduki kursi kepelatihan.

“Ya masih dini karena pelatihnya juga baru datang,” ujar Erick Thohir saat ditemui di Stadion Mandala Krida, Kota Yogyakarta, DIY, Rabu (8/7/2026).

Merajut Rantai Pembinaan yang Putus

Erick membeberkan bahwa PSSI bersama jajaran Komite Eksekutif (Exco) telah menyepakati pembagian fokus kepelatihan yang radikal. Pelatih kepala John Herdman diplot untuk berkonsentrasi penuh menangani tim senior, sembari mengawal kesinambungan pembinaan berjenjang pada Timnas U-20 dan U-23.

Baca Juga :  Kunci Keberhasilan Tim Voli Indonesia Menuju Final SEA Games 2025 Terungkap oleh Pelatih

Sentuhan keberanian itu sudah mulai terasa di lapangan. Nama-nama daun muda seperti Dony Try Pamungkas hingga Matthew Baker yang baru menginjak usia 17 tahun, kini sudah mulai ditarik naik kelas ke level yang lebih tinggi. Kendati demikian, Erick menegaskan bahwa revolusi sejati harus dimulai dari ruang kelas yang paling bawah: kategori U-13 dan U-15.

“Tetapi nanti di bawah technical director Alex (Alexander Zwiers) dan tentu struktur di bawahnya yang Coach U-17 dan U-15 itu mereka akan punya formula tersendiri karena kalau kita fokus di U-20 U-23 telat,” kata Erick memaparkan strateginya.

Belajar dari Dominasi Eropa dan Disiplin Jepang

Baca Juga :  Menarik Alex Pastoor Berusaha Kenali Indonesia dengan Mempelajari Peta Jelang Latih Timnas

Langkah agresif membenahi akar rumput ini diambil bukan tanpa alasan. Berkaca dari peta persaingan sepak bola global hari ini, pembinaan usia dini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan syarat mutlak jika Indonesia tidak ingin sekadar menjadi penonton.

“Ya kita bisa lihat para peserta Asia di Piala Dunia semua sudah gugur ya dan kita bisa lihat dominasi Eropa,” ucap Erick menilai realitas turnamen internasional belakangan ini.

“Artinya kalau kita dari usia U-13 U-15 ini kita bisa mengeluarkan bibit-bibit bagus, bisa bermain di Eropa gitu,” tambahnya.

Dalam visi besarnya, Erick bermimpi Indonesia bisa menduplikasi kesuksesan Jepang. Negeri Sakura tersebut konsisten memanen hasil manis hari ini karena mereka rajin menanam investasi manusia dengan mengirimkan gerbong-gerbong pemain mudanya untuk menempa diri di kompetisi seketat Eropa.

“Nah, ini jadi asuransi ya seperti tim-tim Jepang yang pemainnya banyak sekali main di Eropa,” tuturnya.

Baca Juga :  Timnas Futsal Putri Indonesia Vs Vietnam Perebut Posisi 3 AFF 2026

Investasi Jangka Panjang untuk Masa Depan

Demi membumikan mimpi tersebut, PSSI tidak lagi sekadar mengandalkan bakat alam. Cetak biru pembinaan jangka panjang berdurasi satu dekade telah disusun, lengkap dengan rencana pembangunan infrastruktur fisik berupa pusat pelatihan regional (training center) khusus kelompok umur di berbagai daerah di tanah air.

“Nah, cuman ini mungkin program 10 tahun karena ini baru dibangun dan kami PSSI dalam jangka 1-2 tahun ke depan akan mulai membangun pusat pelatihan tim nasional di daerah ya usianya U-13 U-15, apalagi FIFA sekarang sudah mengumumkan ada kejuaraan dunia U-15.”

“Artinya kalau semua negara sudah berinvestasi di kelompok umur yang lebih muda, kalau kita asyik sendiri di senior terus maka kita akan tertinggal,” pungkas Erick memberi peringatan keras.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com