NARASITODAY.COM – Fenomena ‘brain rot’ semakin ramai diperbincangkan di kalangan pengguna media sosial, menggambarkan dampak negatif dari kecanduan konten berkualitas rendah yang sering kali tidak memberikan nilai edukasi atau intelektual.
Istilah ini muncul sebagai respons terhadap kebiasaan menggulir konten receh yang berlebihan, seperti video lucu, meme, dan tantangan viral, yang dapat menyebabkan penurunan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan fokus.
Menurut Dr. Elena Touroni, seorang psikolog konsultan yang berfokus pada kesehatan mental, ‘brain rot’ mencerminkan perasaan tidak bersemangat dan mental yang tumpul setelah berjam-jam terpapar konten yang tidak menantang.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental sangat nyata dan perlu diatasi dengan serius,” jelasnya dalam sebuah wawancara.
Dampak dari ‘brain rot’ tidak hanya terbatas pada perasaan lelah mental tetapi juga dapat berkontribusi pada masalah kesehatan mental yang lebih serius seperti depresi dan kecemasan. Paparan terus-menerus terhadap konten negatif dan perbandingan sosial yang tidak sehat dapat memperburuk perasaan tertekan dan cemas.
“Banyak orang tidak menyadari bahwa interaksi mereka dengan media sosial dapat mempengaruhi suasana hati dan tingkat stres mereka,” tambah Dr. Touroni. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk mengatur waktu mereka di media sosial dan mencari stimulasi positif yang lebih bermanfaat.
Mengurangi waktu layar, memilih konten yang lebih berkualitas, serta menghabiskan lebih banyak waktu untuk aktivitas fisik dan interaksi sosial nyata adalah langkah-langkah yang dapat diambil untuk melawan efek negatif dari ‘brain rot’.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa menghabiskan waktu berlebihan di platform seperti TikTok dan Instagram dapat menyebabkan penurunan produktivitas serta rasa bersalah karena merasa telah membuang-buang waktu. Dr. Touroni mengingatkan bahwa “keseimbangan dalam penggunaan media sosial sangat penting untuk menjaga kesehatan mental.”
“Dengan cara ini, kita bisa menikmati hiburan tanpa terjebak dalam siklus kecanduan konten yang tidak produktif,” ujarnya.
Dengan meningkatnya kesadaran akan dampak ini, beberapa negara bahkan mulai menerapkan regulasi untuk mengurangi penggunaan ponsel di kalangan anak-anak dan remaja.
Misalnya, beberapa sekolah di Eropa telah menerapkan kebijakan larangan penggunaan ponsel selama jam pelajaran untuk mendorong siswa lebih fokus pada pembelajaran.
Dalam konteks ini, penting bagi kita untuk menyadari bahwa meskipun media sosial menawarkan hiburan dan koneksi sosial, keseimbangan dalam penggunaannya sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan secara keseluruhan.
Dr. Touroni menutup wawancaranya dengan pesan optimis “Kita memiliki kekuatan untuk mengendalikan bagaimana kita menggunakan media sosial. Dengan membuat pilihan yang lebih sadar tentang konten yang kita konsumsi dan menetapkan batasan pada waktu layar kita, kita bisa melindungi kesehatan mental kita sekaligus menikmati manfaat positif dari teknologi.” ***














