Mengapa Indonesia Rentan Terhadap Gempa dan Tsunami? Penjelasan dari BMKG dan BRIN

0
Mengapa Indonesia Rentan Terhadap Gempa dan Tsunami? Penjelasan dari BMKG dan BRIN

NARASITODAY.COM Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa Indonesia terletak di Cincin Api Pasifik, yang juga dikenal sebagai Ring of Fire. BMKG telah beberapa kali menyampaikan potensi ancaman dari Megathrust.

Menurut BMKG, Indonesia berada di titik pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Indo-Australia, Pasifik, dan Eurasia. Akibatnya, Indonesia memiliki 13 segmen Megathrust yang berpotensi memicu gempa besar.

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyatakan bahwa ada dua sumber Megathrust yang saat ini “menunggu waktu,” yaitu Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Suberut.

Ia menegaskan bahwa kedua segmen tersebut belum mengalami gempa besar selama ratusan tahun dan tidak dapat diprediksi kapan guncangan tersebut akan terjadi, karena bisa jadi kedua segmen itu sedang menunggu untuk melepaskan energinya.

Baca Juga :  Musim Hujan Tiba, Kenali Penyebab Meningkatnya Kasus DBD di Masyarakat!

Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nuraini Rahma Hanifa, dalam penelitiannya mencatat bahwa segmen Megathrust di selatan Jawa, termasuk Selat Sunda, menyimpan energi tektonik yang signifikan dan berpotensi memicu gempa berkekuatan magnitudo antara 8,7 hingga 9,1.

“Potensi Megathrust ini dapat memicu goncangan gempa yang besar dan tsunami, yang menjalar melalui Selat Sunda hingga ke Jakarta dengan waktu tiba sekitar 2,5 jam,” ujarnya, seperti dikutip dari situs resmi BRIN pada Sabtu (18/1/2025).

Dia menambahkan bahwa hasil simulasi yang dilakukan BRIN bersama tim peneliti dari berbagai institusi menunjukkan bahwa jika tsunami terjadi, ketinggian gelombang diperkirakan mencapai 20 meter di pesisir selatan Jawa, 3-15 meter di Selat Sunda, dan sekitar 1,8 meter di pesisir utara Jakarta.

Baca Juga :  Gempa Bumi Magnitudo 4,8 Guncang Tarakan, Sejumlah Bangunan Rusak

“Energi yang terkunci di zona subduksi selatan Jawa terus bertambah seiring waktu. Jika dilepaskan sekaligus, goncangan akan memicu tsunami tinggi yang dapat berdampak luas tidak hanya di selatan Jawa tetapi juga di wilayah pesisir lainnya,” jelas Rahma.

Untuk daerah perkotaan seperti Jakarta yang memiliki kepadatan penduduk tinggi dan tanah sedimen yang rentan mengamplifikasi goncangan, upaya mitigasi gempa juga mencakup retrofitting atau penguatan struktur bangunan.

“Retrofitting sangat penting, terutama untuk bangunan di kawasan padat penduduk, karena guncangan kuat berpotensi menyebabkan kerusakan masif dan korban jiwa,” tambahnya.

Baca Juga :  Kabar Baik, Calon Gubernur Jabar Haru Suandharu Berikan Solusinya Nyata Benahi Pendidikan di Jawa Barat

Di kawasan industri seperti Cilegon, potensi gempa juga dikhawatirkan dapat memicu kebakaran akibat kebocoran bahan bakar atau bahan kimia dari pabrik-pabrik besar. Ini menjadi salah satu bahaya sekunder yang perlu diantisipasi melalui penerapan standar keamanan yang ketat.

“Oleh karena itu, BRIN menekankan pentingnya mitigasi melalui pendekatan struktural dan non-struktural. Pendekatan struktural mencakup pembangunan tanggul penahan tsunami, pemecah ombak, serta penataan ruang di kawasan pesisir dengan memperhatikan jarak aman 250 meter dari bibir pantai,” tegasnya.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel