NARASITODAY.COM – Kasus sensitif mengenai pelecehan seksual yang terjadi dalam pertandingan kini menjadi sorotan Federasi Bola Voli Korea Selatan (KOVO). Mereka telah mengeluarkan instruksi agar para penggemar menetapkan batasan dalam mengambil foto atau video untuk menghindari pelanggaran norma.
Di Liga Voli Korea, tidak hanya pemain yang menjadi target, tetapi juga pemandu sorak atau cheerleader. Mereka mengungkapkan ketidaknyamanan akibat banyaknya kamera yang mengambil gambar secara tidak pantas, sehingga para pemain bola voli dan pemandu sorak rentan terhadap voyeurisme atau penyimpangan seksual.
Situasi ini jelas sulit untuk diatasi karena para penggemar telah membeli tiket untuk menyaksikan pertandingan. Hingga saat ini, hanya GS Caltex Seoul KIXX yang secara tegas memberikan peringatan kepada penggemar mereka.
Tim legendaris dengan sembilan gelar beruntun pada tahun 1990-an ini akan melarang penggunaan tripod dan monopod. “Kami mohon agar tidak memusatkan perhatian pada pemandu sorak,” tulis pernyataan klub melalui media sosial Instagram.
“Penggunaan tripod dan monopod akan dilarang secara resmi di kemudian hari.” Peringatan ini dikeluarkan untuk melindungi atlet dan pendukung dari fotografer yang tidak bertanggung jawab.
Seorang pemandu sorak yang namanya tidak disebutkan mengeluhkan tindakan pengambilan gambar yang tidak sopan. “Ini bukan sekadar tentang ‘menangkap momen’, tetapi lebih kepada mengambil ‘full cam’ daripada ‘direct cam’ dari suatu pertunjukan,” ujarnya.
“Saat kami hadir, mereka duduk di tribun depan dengan tripod. Mereka (penggemar) sama sekali tidak memperhatikan pertandingan, hanya kami.” “Ketika saya menjauh, mereka mengikuti saya.”
“Ada orang yang merekam momen-momen memalukan dan mendistribusikan rekaman tersebut,” tambahnya.
Pemandu sorak lainnya juga merasakan ancaman dari tindakan tersebut. “Beberapa orang tertawa ketika saya pulang kerja dan menunjukkan kepada saya ‘seperti inilah penampilan saya hari ini’.”
“Ini bisa dilihat sebagai fanatisme, tetapi terkadang terasa mengancam,” keluhnya. Masalah serupa juga pernah terjadi di Indonesia. Tahun lalu, para pemain voli putri berbicara setelah beredarnya video-video yang menyasar bagian tubuh tertentu.
Pemain bintang, Yolla Yuliana, bahkan memberikan ultimatum kepada pelaku dengan rencana melapor ke pihak berwajib. Namun, berbeda dengan Indonesia, tindakan pelecehan dalam pengambilan gambar di negara tersebut bukan dilakukan oleh penggemar, melainkan oleh seorang fotografer yang memiliki tanda pengenal dan diizinkan masuk ke arena pertandingan.
Sementara itu, KOVO menyatakan akan terus memantau tindakan-tindakan yang melanggar norma kesopanan. “Pertama-tama, kami telah memperkuat pemantauan video di YouTube dan media sosial lainnya,” bunyi pernyataan KOVO.
“Kami terus mengingatkan masyarakat untuk mematuhi etika di stadion melalui papan elektronik dan media sosial.”
“Ada bagian mengenai pengambilan gambar dengan kamera pribadi di sana.”
“Namun demikian, tidak ada dasar hukum untuk melarang penggunaan kamera atau menghukum perilaku pengambilan gambar.” ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel














