Investasi Industri Tekstil Indonesia Melonjak 107%, Dampak Positif bagi Tenaga Kerja

0
Ilustrasi tekstil

NARASITODAY.COM – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan perintah baru dari Presiden Prabowo Subianto untuk segera menangani masalah yang dihadapi sektor manufaktur di Indonesia, khususnya di industri tekstil dan produk tekstil (TPT), serta alas kaki.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Luhut melalui video yang diunggah di akun Instagram resminya pada Rabu (26/2/2025). “DEN sedang mempelajari berbagai strategi yang diperlukan untuk mengembangkan industri TPT dan alas kaki di tanah air,” ujarnya.

Hal ini dilakukan di tengah situasi yang penuh tantangan, seperti gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), penutupan pabrik, dan kondisi industri TPT yang dianggap sebagai industri yang sedang menurun (sunset industry).

“Presiden telah memberikan instruksi agar segera ada reaksi cepat, dan saya rasa kita bisa melakukannya. Kami di Dewan Ekonomi Nasional sudah mempelajari masalah ini dan kami telah mulai bergerak untuk mengatasinya. Kami sudah hampir selesai dengan kajian kami dan berharap bisa segera bertemu dengan pihak-pihak terkait,” tuturnya, seperti dikutip pada Kamis (27/2/2025).

Baca Juga :  Pj. Bupati Bogor Minta BLK Ciptakan Program Konkrit Turunkan Angka Pengangguran  

Luhut juga menambahkan, “Saya juga sudah menghubungi para menteri yang terkait dengan masalah ini di masing-masing sektor.”
Dia menegaskan bahwa langkah ini dilakukan untuk menjaga penciptaan lapangan kerja baru di Indonesia.

“Meskipun Indonesia tengah berfokus pada pertumbuhan investasi di sektor teknologi tinggi, kita tetap harus menjaga industri-industri seperti TPT dan alas kaki yang menyerap banyak tenaga kerja,” lanjut Luhut.

Diketahui, industri ini menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja, dengan 2,9 juta di antaranya bekerja di industri pakaian jadi.

Luhut menjelaskan bahwa dalam setahun terakhir, banyak perusahaan TPT dan alas kaki yang menjadikan Indonesia sebagai lokasi untuk merelokasi pabrik mereka, meskipun banyak yang belum menyadari hal ini.

“Selama tahun lalu, Indonesia menjadi tujuan utama relokasi industri tekstil dan alas kaki, didorong oleh perubahan global seperti perang dagang antara AS dan China serta kejenuhan industri di Vietnam,” paparnya.

Menurutnya, hal ini terbukti dengan lonjakan investasi asing langsung di sektor TPT yang meningkat 107% menjadi US$903 juta pada 2024. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) untuk sektor ini juga mencapai Rp7 triliun.

Baca Juga :  Kepala Desa Hambaro Desak Pemkab Bogor Perbaiki TPT Sungai Cimapag

DEN melihat sektor ini sebagai bagian penting dari ekonomi yang menyerap hampir 4 juta tenaga kerja, dengan industri pakaian jadi menyerap 2,9 juta orang. Selain itu, industri ini juga memiliki peran strategis dalam mendukung sektor usaha kecil dan mikro, terutama yang bergerak di bidang makanan dan minuman,” ungkap Luhut.

“Angka investasi ini memang lebih kecil jika dibandingkan dengan industri smelter, tetapi bukan berarti tidak berdampak. Investasi ini menunjukkan adanya dampak positif dalam penciptaan lapangan kerja. Kajian DEN menunjukkan bahwa investasi sebesar US$20-30 juta di pabrik pakaian jadi dapat menciptakan hingga 9.000 lapangan kerja,” jelasnya.

Siap-Siap Indonesia Kebanjiran Order Baru
Luhut juga membagikan hasil pertemuannya dengan perwakilan brand internasional dan asosiasi industri alas kaki Indonesia, APRISINDO.

“Pekan lalu, saya bertemu dengan Asosiasi Persepatuan Indonesia dan perwakilan dari brand global seperti Adidas dan Nike. Mereka sangat optimistis dengan Indonesia, terlebih di tengah situasi perang dagang AS-Tiongkok dan kejenuhan industri di Vietnam. Salah satu brand global bahkan berencana untuk meningkatkan order mereka hingga tiga kali lipat dalam tiga tahun ke depan, yang akan membuka 100 ribu lapangan kerja baru,” terang Luhut.

Baca Juga :  AS dan Bangladesh Capai Kesepakatan Pemangkasan Tarif Impor Tekstil

Namun, dia mengingatkan bahwa masih ada tantangan yang perlu dihadapi, seperti masalah pembebasan lahan, perizinan, upah, serta maraknya impor ilegal akibat kelebihan kapasitas produksi di China.

“Saya telah melaporkan hal ini kepada Presiden, yang langsung menanggapi dengan memberikan instruksi untuk segera menyelesaikan hambatan-hambatan tersebut,” ujarnya.

Luhut berharap agar semua pihak memberikan dukungan penuh dalam menjalankan perintah tersebut.

“Saya berharap ada sinergi yang kuat antara pemerintah, industri, dan akademisi agar kita bisa menciptakan ekosistem industri yang kompetitif. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi tempat produksi, tetapi juga pusat pertumbuhan industri masa depan,” tutup Luhut.***