Korban Tewas Meningkat, Militer Israel Perintahkan Evakuasi di Gaza

0
Korban Tewas Meningkat, Militer Israel Perintahkan Evakuasi di Gaza

NARASITODAY.COM – Gelombang serangan udara yang mengguncang Gaza pada Selasa, 18 Maret 2025, menandai berakhirnya gencatan senjata dan menandakan eskalasi besar dalam konflik Israel-Palestina.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam pidatonya menyampaikan peringatan keras: serangan ini “baru permulaan.” Ia menegaskan bahwa Israel akan terus melancarkan serangan sampai mencapai tujuan perang mereka—menghancurkan Hamas dan membebaskan seluruh sandera yang ditahan oleh kelompok militan tersebut.

Hamas sudah merasakan kekuatan tangan kami dalam 24 jam terakhir, dan saya ingin berjanji kepada Anda—dan kepada mereka—bahwa ini baru permulaan,” kata Netanyahu, seperti dikutip dari The Guardian.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, memperkirakan bahwa perang ini bisa berlangsung selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan. “Hamas harus memahami bahwa aturan permainan telah berubah,” kata Israel Katz, Menteri Pertahanan Israel lainnya, dalam kunjungannya ke pangkalan udara.

  • Perintah Evakuasi dan Angka Korban yang Terus Meningkat
Baca Juga :  Rudy Susmanto Sebut Tahun 2025 Momentum Kebangkitan Kabupaten Bogor

Militer Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi untuk wilayah utara dan timur Gaza, menandakan bahwa serangan darat bisa segera dilakukan. Otoritas kesehatan Palestina melaporkan lebih dari 400 korban tewas akibat serangan udara ini, dengan jumlah terbaru mencapai 413 orang. Lebih dari 600 orang lainnya terluka, sementara serangan udara dan tembakan artileri masih berlanjut sepanjang hari.

Salah satu serangan dilaporkan menewaskan 17 anggota satu keluarga di Rafah, termasuk lima anak dan orang tua mereka, serta seorang pria dengan tiga anaknya. Di rumah sakit Nasser di Khan Younis, saksi mata menggambarkan suasana mengerikan dengan pasien tergeletak di lantai, beberapa di antaranya berteriak kesakitan. Di rumah sakit al-Shifa di Kota Gaza, para penyintas mengadakan pemakaman darurat bagi puluhan jenazah yang berjejer di halaman.

  • Klaim dan Penolakan Hamas
Baca Juga :  Desta Disorot, Motor Gede Tergelincir Tapi Etika Tetap Juara

Juru bicara militer Israel, Letkol Nadav Shoshani, menyatakan bahwa serangan ini diluncurkan setelah intelijen Israel menemukan rencana Hamas untuk menculik atau membunuh lebih banyak warga sipil dan tentara Israel. Hamas, di sisi lain, menolak untuk membebaskan lebih banyak sandera, yang dianggap oleh Israel sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang dimulai pada Januari 2025.

Kantor Netanyahu menuduh Hamas menolak proposal dari utusan Timur Tengah AS, Steve Witkoff, untuk memperpanjang jeda pertempuran. Hamas sendiri berpendapat bahwa pembebasan sandera seharusnya terjadi pada fase kedua yang telah disepakati pada Januari, tetapi Israel sejak itu menolak membahas atau menerapkannya.

  • Keadaan Darurat dan Seruan dari Hamas
Baca Juga :  Fenomena Tak Biasa di Israel, Ribuan Lebah Menghiasi Kota Netivot dan Picu Spekulasi Religius

Meskipun Israel terus melancarkan serangan dan menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti hingga tujuan mereka tercapai, pejabat Hamas, Taher al-Nunu, mengingatkan komunitas internasional bahwa mereka kini berada di “ujian moral.” “Mereka bisa memilih untuk membiarkan kembalinya kejahatan yang dilakukan oleh tentara pendudukan, atau mereka bisa menegakkan komitmen untuk mengakhiri agresi dan perang terhadap rakyat tak bersalah di Gaza,” ujar Nunu.***