Demonstrasi Besar-besaran di AS: Suara Rakyat Menentang Kebijakan Kontroversial Trump Menggema

0
Demonstrasi Besar-besaran di AS: Suara Rakyat Menentang Kebijakan Kontroversial Trump Menggema.Foto:cnbc.com

NARASITODAY.COM – Pada Sabtu (5/4/2025), jalan-jalan di berbagai kota besar Amerika Serikat (AS) dipenuhi oleh ribuan demonstran yang menuntut perubahan. Unjuk rasa ini menjadi yang terbesar sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat, dengan para peserta mengungkapkan ketidakpuasan mereka terhadap sejumlah kebijakan kontroversialnya.

Dari Washington hingga Los Angeles, ribuan orang menggelar aksi protes, dengan berbagai isu yang menjadi sorotan utama, mulai dari pemangkasan jumlah staf pemerintah, tarif perdagangan yang membebani, hingga kekhawatiran atas pengikisan kebebasan sipil. Di Washington, ribuan orang, termasuk banyak yang datang dari berbagai penjuru AS, berkumpul di National Mall, mendengarkan pembicara yang menyerukan penolakan terhadap Trump.

“Kami memiliki sekitar 100 orang yang datang dengan bus dan van dari New Hampshire untuk memprotes pemerintahan yang keterlaluan ini, yang menyebabkan kita kehilangan sekutu di seluruh dunia dan kehancuran di tanah air,” kata Diane Kolifrath (64), seorang pemandu wisata sepeda yang turut serta dalam aksi tersebut. “Mereka menghancurkan pemerintahan kita,” imbuhnya.

Baca Juga :  Bolu Kukus Tiramisu Super Moist, Resep Sederhana yang Dijamin Enak!

Sementara itu, di New York, Shaina Kesner, seorang pelukis, menyampaikan kemarahannya atas kebijakan Trump dengan mengatakan, “Saya sangat marah, saya sangat marah, sepanjang waktu. Sekelompok pemerkosa kulit putih yang memiliki hak istimewa mengendalikan negara kita. Itu tidak bagus,” ujar Kesner yang turut bergabung dalam kerumunan demonstran di jantung kota Manhattan.

Di Los Angeles, protes berlangsung dramatis dengan seorang wanita berpakaian seperti karakter dalam novel distopia The Handmaid’s Tale, melambaikan bendera besar bertuliskan “Keluar dari rahimku,” sebagai simbol penolakan terhadap kebijakan anti-aborsi Trump. Sementara itu, di Denver, Colorado, seorang pria mengangkat plakat bertuliskan “Tidak ada raja untuk AS,” menyerukan penolakan terhadap kebijakan otoriter yang dianggap merugikan rakyat.

Protes ini tidak hanya terbatas di AS. Di Eropa, kota-kota besar juga menjadi tempat bagi demonstrasi yang menentang kebijakan Trump, terutama kebijakan perdagangannya yang dianggap agresif.

Baca Juga :  Rencana Pemutihan Tunggakan BPJS Jadi Harapan Baru Peserta JKN

Di London, Inggris, Liz Chamberlin, seorang warga negara AS-Inggris, menyatakan, “Apa yang terjadi di Amerika adalah masalah semua orang. Itu kegilaan ekonomi… Dia akan mendorong kita ke dalam resesi global.”

Di Berlin, Jerman, seorang pensiunan berusia 70 tahun, Susanne Fest, menambahkan, “Trump telah menciptakan krisis konstitusional… Orang itu gila.”

Penyebab utama dari protes ini adalah serangkaian kebijakan Trump yang menuai kritik tajam. Salah satunya adalah penerapan tarif 32% untuk barang-barang dari Indonesia yang masuk ke AS.

Trump menjelaskan bahwa kebijakan ini diterapkan sebagai respons terhadap tarif tinggi yang dikenakan Indonesia terhadap produk AS, seperti etanol. Menurutnya, Indonesia mengenakan tarif 64% untuk barang-barang dari AS, jauh lebih tinggi daripada tarif 2,5% yang dikenakan AS pada produk serupa.

Baca Juga :  DK PBB Resmi Terapkan Rencana Trump untuk Gaza, Hamas Bersikeras Menolak

Selain masalah tarif, Trump juga mengkritik kebijakan non-tarif Indonesia, seperti persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), perizinan impor yang rumit, serta kebijakan yang mewajibkan perusahaan sumber daya alam menyimpan pendapatan ekspor di rekening dalam negeri untuk transaksi yang nilainya lebih dari USD 250.000.

Namun, kebijakan Trump tidak hanya melibatkan isu perdagangan. Kebijakan lainnya yang memicu perdebatan luas adalah deportasi massal dan perintah eksekutif yang memberi Trump kekuasaan lebih besar tanpa perlu persetujuan Kongres. Ini semakin memperburuk ketegangan di dalam dan luar negeri.

Dengan demonstrasi yang terus berkembang baik di dalam negeri maupun di luar negeri, jelas bahwa kebijakan Trump semakin menciptakan ketidakpuasan yang meluas. Sementara itu, para demonstran berjanji untuk terus memperjuangkan perubahan, menuntut agar suara mereka didengar dan kebijakan yang lebih adil diterapkan.***