NARASITODAY.COM – Di bawah gemerlap lampu Gedung Negara, Kota Serang, Sabtu malam itu terasa berbeda. Bukan sekadar seremoni adat, Seba Baduy tahun ini membawa pesan yang menggugah nurani: permohonan akan keselamatan hidup.
Ribuan langkah telah ditempuh. Sejak Jumat malam (2/5), 1.769 warga Baduy baik Dalam maupun Luar berjalan kaki dari pedalaman Kanekes, menemui para pemimpin yang mereka hormati.
Usai bersua dengan Bupati Lebak, mereka menyambung perjalanan ke jantung pemerintahan Provinsi Banten. Di hadapan Gubernur Andra Soni, suara mereka tak lantang, namun menggetarkan.
“Ketersediaan obat atau anti bisa ular, mohon agar anti bisa ular itu disiapkan atau selalu tersedia di sekitar warga Baduy,” ujar Andra Soni menirukan keluhan warga yang disampaikan saat pertemuan Seba, Sabtu malam (3/5/2025).
Bagi masyarakat adat Baduy yang menggantungkan hidup dari alam, bertani di leuweung (hutan) adalah bagian dari kehidupan. Namun di balik keasrian rimba, bahaya sering mengintai diam-diam. Gigitan ular bukan cerita baru, tapi selama ini, harapan untuk sembuh kerap terkubur oleh keterbatasan fasilitas.
“Tradisi kami budaya tadi kami kemungkinan ketika masyarakat bertani, kami bertani di leweung kami khusus hayang dikhususkan anti bisa,” ujar Jaro Oom, salah satu pemimpin masyarakat Baduy, menyuarakan harapan warga.
Gubernur Andra, yang oleh masyarakat Baduy kerap disebut “Bapak Gede”, menyambut aspirasi ini dengan empati. Ia menegaskan akan segera berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lebak agar Puskesmas di Ciboleger, yang menjadi titik layanan kesehatan utama bagi warga Baduy, dapat menjamin ketersediaan anti bisa ular.
“Telah diinformasikan bahwa di Ciboleger terdapat Puskesmas milik Pemerintah Kabupaten Lebak yang melayani warga Baduy. Mohon kepala dinas dapat bekerja sama dan berkolaborasi untuk memastikan ketersediaan obat tersebut,” katanya tegas.
Andra juga menyinggung tentang kasus terdahulu, ketika seorang warga Baduy digigit ular dan dirujuk ke RSUD Banten, namun tidak tersedia serum penawarnya.
“Pernah ada warga yang tergigit ular dan dibawa ke RSUD Banten, namun tidak tersedia obat anti bisa ular. Sebagai rumah sakit pusat terbesar di Banten, saya mohon agar obat tersebut wajib tersedia,” ujar Andra, memberi penekanan serius.
Seba Baduy bukan sekadar ritual turun temurun untuk menyampaikan tanda hormat. Ia adalah jembatan antara kearifan lokal dan keputusan birokrasi. Tahun ini, jembatan itu membawa serta permohonan tentang keselamatan, perlindungan alam, dan hak hidup yang lebih layak—bukan sekadar untuk hari ini, tapi untuk generasi Baduy yang akan datang.***














