NARASITODAY.COM – Di balik pagar-pagar blokade yang mengurung Jalur Gaza, suara kelaparan tak lagi hanya sebuah kekhawatiran ia telah menjadi kenyataan sehari-hari bagi 2,1 juta jiwa yang terperangkap di dalamnya. Dari utara hingga selatan Gaza, kehidupan tak lagi bicara soal masa depan, melainkan tentang bertahan hidup hari ini.
Laporan terbaru dari Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang dirilis pada Senin, 12 Mei 2025, mengungkapkan kenyataan yang mencengangkan lebih dari separuh juta orang atau sekitar seperlima penduduk Gaza telah hidup dalam kondisi kelaparan akut sejak awal Maret. Blokade Israel yang semakin ketat sejak bulan itu membuat pasokan bahan makanan dan bantuan kemanusiaan nyaris terhenti total.
“Kelaparan dan malnutrisi akut sudah menjadi kenyataan sehari-hari bagi anak-anak di seluruh Jalur Gaza,” kata Catherine Russell, Direktur Eksekutif UNICEF, kepada Middle East Eye. UNICEF telah menangani sekitar 11.000 anak penderita malnutrisi akut sejak awal tahun ini.
Anak-anak, seperti biasa, menjadi korban paling rentan. Sekitar 71 ribu balita diperkirakan akan mengalami malnutrisi akut hingga April 2026. Kondisi di wilayah Gaza Utara, Gaza Tengah, dan Rafah diprediksi akan memasuki fase kritis antara Mei hingga September 2025.
Sementara itu, 93 persen penduduk Gaza atau sekitar 1,95 juta orang kini mengalami kekurangan pangan. Dari jumlah tersebut, 244 ribu orang sudah berada dalam kategori “bencana kelaparan,” dan angka ini diperkirakan melonjak menjadi hampir 470 ribu dalam waktu beberapa bulan ke depan.
Situasi ini jauh memburuk dibandingkan laporan IPC sebelumnya pada Oktober 2024. Gaza kini tercatat sebagai wilayah dengan populasi kelaparan terbesar di dunia.
Di jalan-jalan sempit kamp pengungsian, kehidupan menjadi semakin tak manusiawi. Keluarga-keluarga harus mengais sampah untuk mencari sisa makanan atau menjual apapun yang bisa ditukar dengan sepotong roti. Sayangnya, bahkan roti pun kini menjadi barang langka.
“Kelaparan ini disengaja dan dibiarkan terjadi. Kami melihat anak-anak kekurangan gizi yang bahkan terlalu lemah untuk menangis. Di salah satu kamp, hanya 5 dari 500 keluarga yang masih punya tepung tersisa.”Mahmoud Alsaqqa, koordinator ketahanan pangan dari Oxfam.
Harga tepung terigu meroket hingga 3.000 persen sejak Februari. Menurut laporan Relief Web, harga tepung kini mencapai antara 235 hingga 520 dolar AS per 25 kilogram angka yang tak terjangkau bagi kebanyakan keluarga Gaza.
Seluruh infrastruktur pangan Gaza kini lumpuh. Tempat-tempat produksi roti yang disokong oleh Program Pangan Dunia (WFP) telah tutup sejak April karena kehabisan bahan. Sebanyak 177 dapur umum pun kini tak lagi bisa beroperasi.
Tragisnya, di balik tembok dan pagar perbatasan, lebih dari 116 ribu ton bahan pangan tertahan. Jumlah itu cukup untuk memberi makan satu juta orang selama empat bulan, namun tak satu pun bisa menjangkau mereka yang kelaparan.
“Keluarga di Gaza kelaparan sementara makanan yang mereka butuhkan tertahan di perbatasan. Jika kita menunggu sampai kelaparan terkonfirmasi, itu sudah terlambat bagi banyak orang.”Cindy McCain, Direktur Eksekutif WFP
Blokade yang dilakukan Israel, menurut laporan, dimaksudkan sebagai tekanan terhadap Hamas agar membebaskan sandera. Namun, dampaknya justru menjadikan seluruh populasi sebagai korban kolektif dalam krisis politik yang tak kunjung usai.
Rencana distribusi bantuan yang diumumkan Israel pada 5 Mei lalu pun dinilai tidak memadai oleh IPC. Banyak badan kemanusiaan menolak skema tersebut karena dinilai memanipulasi bantuan sebagai alat kontrol politik.
Dalam pernyataannya, IPC mendesak tindakan segera yang meliputi: penghentian konflik bersenjata, pembukaan akses bantuan tanpa hambatan, pemulihan layanan penting, dan distribusi merata bantuan bagi semua warga yang membutuhkan.
Di Gaza hari ini, kelaparan bukan sekadar ancaman statistik. Ia adalah jeritan senyap yang menggema di antara reruntuhan, di balik mata anak-anak yang kehilangan masa kanak-kanaknya, dan di dapur-dapur kosong yang tak lagi punya api untuk menyala.***














