Gelombang PHK di Industri Padat Karya Capai 114.000 Orang Sepanjang Awal 2025

0
Ilustrasi PHK

NARASITODAY.COM – Di tengah deretan mesin yang tak lagi seramai dulu, pabrik-pabrik di sektor padat karya kini menyimpan sunyi. Industri yang dulu menjadi tumpuan ribuan keluarga dari tekstil, sepatu, hingga tembakau kini sedang menghadapi kenyataan pahit permintaan yang melemah, biaya produksi yang tinggi, dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang tak terbendung.

“Sekarang semua sebenarnya padat karya terimbas, makanya kenapa sekarang kita lebih banyak menyuarakan padat karya,” ujar Shinta Kamdani, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), di sela pertemuan di Kantor DPP Apindo, Jakarta, Jumat (16/5/2025).

Suara Shinta tak sekadar retorika. Data yang dibawa Apindo menunjukkan gelombang PHK sudah menyapu lebih dari 114.000 pekerja hanya dalam kurun waktu 1 Januari hingga 10 Maret 2025. Dari jumlah tersebut, sebanyak 73.992 orang tercatat tidak lagi sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, sementara 40.683 orang lainnya mengajukan klaim JHT karena terkena PHK.

Derita itu bukan baru. Sepanjang 2024 lalu, angka PHK bahkan mencapai 411.481 orang. Dalam catatan Apindo, tren ini terus berulang dan semakin menggerus daya beli masyarakat.

Baca Juga :  Trump Perintahkan Kawalan Tanker di Selat Hormuz, Klaim Serangan ke Iran untuk Cegah Perang Lebih Besar

Lesunya daya beli itu tercermin dalam kinerja ekonomi nasional yang merosot. Pada kuartal I-2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 4,87% year on year (yoy) turun dari ekspektasi yang biasanya melampaui angka 5%. Bahkan, konsumsi rumah tangga penopang utama ekonomi dengan porsi 54,53% hanya tumbuh 4,89%, menjadi yang terendah dalam lima kuartal terakhir.

“Terendah dalam 5 kuartal terakhir. Dan melanjutkan tren di bawah 5% meskipun ini mencakup periode Ramadan yang biasanya mendorong peningkatan belanja masyarakat. Jadi kelihatan sekali rasanya Ramadan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Shinta.

Pukulan ini terasa keras bagi sektor-sektor seperti tekstil dan pakaian jadi, yang hanya tumbuh 4,64% di kuartal I-2025, jauh menurun dari 7,17% pada kuartal sebelumnya. Industri pengolahan tembakau bahkan mengalami kontraksi -3,77%, melanjutkan tren pelemahan dari akhir tahun lalu.

Industri kulit dan alas kaki tak luput dari badai. Pertumbuhannya jatuh ke 6,95%, padahal kuartal sebelumnya masih bisa mencapai 9,16%.

“Jadi semua industri padat karya, termasuk tekstil, garmen, sepatu, itu sedang kena semuanya, jadi ada dua, demand dan supply. Kalau dari demand kelihatan demand dalam negerinya anjlok, demand luar negerinya juga anjlok,” kata Shinta dengan nada prihatin.

Baca Juga :  Geopolitik dan Armada Bayangan: Ancaman Baru di Jalur Minyak Global Setelah Ledakan Tanker

Bahkan industri CPO (crude palm oil), yang selama ini menjadi andalan ekspor Indonesia, kini menghadapi tekanan. Harga jual menurun dan performa industri terkontraksi -6,67%, seiring dengan menurunnya permintaan global. Batu bara pun senasib, dengan kontraksi harga mencapai -21,28%.

Apindo mencatat, dari hasil survei terhadap lebih dari 350 perusahaan, sekitar 69,4% menyebutkan PHK terjadi akibat penurunan permintaan yang terus memburuk.

“Makanya sekarang kenapa kita perlu revitalisasi padat karya, karena PHK ini menjadi satu perhatian yang sangat mengkhawatirkan buat kita,” tegas Shinta.

Namun bukan hanya soal lemahnya permintaan. Biaya produksi yang terus meningkat, seiring dengan banyaknya pungutan dari berbagai sektor pemerintahan, juga jadi masalah yang mengganjal dunia usaha.

“Satu sisi kami mengerti juga pemerintah mau naikin penerimaan tapi di sisi lain jangan sampai berdampak juga ke situasi yang sudah sulit doing business-nya, karena perusahaan juga akan sangat terganggu,” tambah Shinta.

Baca Juga :  Kritik Pedas atas Rencana Penambahan Dana Parpol, Masyarakat Diminta Awasi Transparansi

Di sisi lain, kebijakan fiskal juga mulai mendapat sorotan. Ketua Komisi XI DPR RI, Misbakhun, mengkritik kebijakan cukai terhadap industri tembakau yang dinilai terlalu agresif. Menurutnya, produksi rokok terus menurun akibat tarif cukai yang terus dinaikkan tiap tahun.

“Karena itu eksesif dari sisi produksi dan eksesif terhadap penerimaan cukai kita, maka harus dikaji ulang,” ujar Misbakhun.

Ia mengutip data bahwa produksi tembakau turun dari 323,9 miliar batang pada 2022 menjadi 317,4 miliar batang pada 2024, meski penerimaan negara dari cukai tetap tinggi. Kuartal I-2025, produksi golongan 1 bahkan menurun 10,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di tengah angka-angka yang menunjukkan pelemahan dan narasi PHK yang kian dominan, wajah-wajah pekerja padat karya menyimpan harap. Mereka bukan sekadar angka dalam laporan ekonomi melainkan tulang punggung keluarga, dan bagian dari denyut ekonomi bangsa yang kini memerlukan keberpihakan dan solusi nyata.***