NARASITODAY.COM – Di jantung Afrika, sebuah kisah konservasi luar biasa tengah disusun. Pada akhir Mei ini, Rwanda negara kecil yang terus menegaskan diri sebagai bintang baru pariwisata satwa liar di benua hitam akan menyambut kedatangan 70 ekor badak putih dari Afrika Selatan. Langkah ini bukan sekadar pemindahan hewan, tapi juga penulisan ulang sejarah harapan bagi spesies langka yang pernah nyaris musnah.
Dengan bobot masing-masing mencapai dua ton, hewan-hewan raksasa ini akan menempuh 3.400 kilometer perjalanan darat dan udara menuju rumah baru mereka di Taman Nasional Akagera, taman nasional terbesar Rwanda. Pemindahan ini menjadi yang terbesar dalam sejarah konservasi Rwanda, dan salah satu yang paling ambisius di dunia.
“Acara ini menandai tonggak penting dalam konservasi badak dan menunjukkan upaya kolektif kita untuk melindungi dan mengelola Taman Nasional Akagera secara berkelanjutan,” ujar pihak pengelola taman dalam pernyataan resmi, dikutip dari AFP pada Jumat (16/5/2025).
Badak putih atau Ceratotherium simum dulunya adalah pemandangan umum di sabana Afrika sub-Sahara. Namun masa kejayaan itu memudar ketika perburuan yang dimulai sejak era kolonial Eropa dan terus berlanjut lewat praktik pemburuan liar modern, memangsa ribuan dari mereka untuk diambil cula yang sangat bernilai di pasar gelap.
Menurut International Rhino Foundation (IRF), tren kelam itu belum sepenuhnya berakhir. Sebanyak 586 ekor badak diburu di Afrika sepanjang tahun 2023, meningkat 4% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka-angka itu menjadi alarm keras bahwa pekerjaan rumah konservasi masih panjang.
Kini, hanya tersisa sekitar 17.000 ekor badak putih selatan salah satu dari dua subspesies yang ada. Mereka dikategorikan sebagai “hampir terancam” oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Sementara saudaranya, badak putih utara, lebih tragis lagi nasibnya hanya tersisa dua ekor betina hidup di dunia. Tidak ada jantan tersisa.
Namun harapan belum pupus. Para ilmuwan berpacu dengan waktu. Dengan teknologi rekayasa reproduksi, mereka mencoba menciptakan embrio dari telur badak betina terakhir yang masih muda, Fatu, dan sperma beku dari jantan yang telah tiada. Sebuah usaha terakhir untuk menghidupkan kembali garis keturunan yang nyaris punah.
Bagi Rwanda, upaya konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan spesies, tapi juga tentang membangun identitas baru sebagai tujuan safari terkemuka. Negara ini sebelumnya telah menerima 30 badak putih pada tahun 2021 untuk taman yang sama bagian dari strategi jangka panjang menghidupkan kembali populasi dan menciptakan tempat aman bagi mereka berkembang biak.
Dengan kedatangan gelombang baru 70 badak ini, Akagera bukan sekadar menjadi suaka tapi juga simbol bahwa bahkan dalam dunia yang penuh ancaman, harapan masih bisa tumbuh, satu langkah konservasi besar pada satu waktu.***














