Oleh: Heru B Setyawan (Pemerhati & Aktivis Pendidikan)
Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) menegaskan bahwa tidak boleh ada praktik siswa titipan dalam proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 untuk jenjang SMA dan SMK di seluruh wilayah Jawa Barat. Dalam pernyataannya pada Senin (9/6/2025), KDM, sapaannya, menyebut praktik siswa titipan kerap terjadi setiap tahun dan harus dihentikan secara tegas.
Tidak KDM namanya jika tidak membuat kebijakan yang luar biasa, luar biasa disini artinya bisa membuat pro dan kontra di masyarakat, yang pro wong kecil, yang berbeda dengan pemimpin yang lain, dan yang anti mainstream.
Selama ini sudah banyak aturan KDM yang bikin heboh, yaitu larangan murid untuk study tour, larangan murid untuk perpisahan, pengiriman murid nakal ke barak militer, larangan guru memberikan Pekerjaan Rumah (PR), membongkar bangunan rekreasi yang melanggar aturan, melarang sekolah untuk menahan ijazah peserta didik yang masih punya hutang ke sekolah dan yang ekstrim KDM memecat Kasek di Depok yang melanggar aturan untuk tidak study tour.
Bagi penulis apapun kebijakan dari KDM, asal baik, bermanfaat dan membawa kemaslahatan bagi masyarakat ya penulis apresiasi serta kita dukung sesuai fungsi dan kemampuan kita masing-masing bro.
Sebaliknya jika kebijakannya merugikan masyarakat ya penulis kritisi sambil memberi solusi, mudah kan, tidak perlu teriak-teriak berkata-kata kasar dan tidak sopan di media sosial.
Kebijakan KDM tentang titip menitip saat SPMB ini, yang biasanya dilakukan oleh mereka yang punya kekuasaan dan wewenang, tidak ada masalah bagi Kasek yang selama ini punya integritas, jujur, lurus, tidak pernah neko-neko, tidak pernah Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN), bekerja sesuai aturan dan tidak takut kepada siapapun kecuali dengan Tuhan Yang Maha Kuasa,
Maka momen yang sangat baik ini, sebaiknya digunakan untuk menciptakan SPMB yang berintegritas, jujur, transparan, berkeadilan, akuntabel, nyaman, menyenangkan, ajang kompetisi yang sehat antar murid.
Jika kaseknya baik, maka akan baik pula wakaseknya, gurunya, stafnya dan muridnya. Jangan seperti sekarang, karena ada dugaan terjadinya korupsi sekitar 10 trilyun di Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Ristek (Kemendikbudristek) pada jaman Mas Nadiem. Pendidikan yang harusnya menjadi benteng terakhir dari moralitas, justru dirusak oleh orang nomor satu di dunia pendidikan. Jayalah Indonesiaku.***














