Oleh : Heru B Setyawan (Pemerhati & Aktivis Pendidikan)
KANG Dedi Mulyadi alias KDM sebagai gubernur Jawa Barat, mengeluarkan kebijakan larangan pemberian Pekerjaan Rumah (PR) bagi siswa di sekolah-sekolah Jawa Barat mulai tahun ajaran baru 2025/2026.
Kebijakan ini bertujuan untuk memberikan waktu lebih bagi siswa untuk beristirahat, mengembangkan minat, dan membantu orang tua di rumah, serta agar semua tugas sekolah diselesaikan di sekolah.
Tapi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, berbeda pendapat dengan Gubernur Jawa Barat KDM, terkait kebijakan pemberian PR kepada siswa.
KDM berencana menghapus PR di sekolah-sekolah Jawa Barat, sementara Mendikdasmen berpendapat bahwa PR tetap boleh diberikan, asalkan dalam bentuk aktivitas yang lebih menarik dan bermanfaat, seperti membaca atau menulis, bukan sekadar soal.
Lalu bagaimana dengan pendapat penulis? Sebagai pemerhati pendidikan dan guru di SMAIT BBS dan SMA Mardi Yuana, jelas penulis sangat mendukung kebijakan KDM kali ini.
Dan inilah alasan penulis mengapa setuju dengan kebijakan larangan pemberian PR bagi murid.
Hampir sebagian besar peserta didik setuju dengan kebijakan KDM ini, alasannya karena pelajar sudah capai belajar dari pagi sampai sore, belum ada juga yang ikut kegiatan ekstrakurikuler, Pramuka, Paskibraka, PMR, basket, futsal, sepak bola, bimbingan belajar, kegiatan OSIS dan lain-lain.
Sebagian besar guru juga sama dengan peserta didik, yaitu setuju tidak adanya PR bagi peserta didik. Guru bisa menyiasati tanpa adanya PR, yaitu dengan membuat siswa aktif selama Proses Belajar Mengajar (PBM).
Penulis sebagai guru berpendapat selama peserta didik sudah aktif saat PBM itu sudah cukup untuk menggantikan PR yang ada selama ini. Di beberapa sekolah memang sudah tidak ada pemberian PR lagi.
Apalagi sekarang kita memakai pembelajaran deep learning. Pembelajaran deep learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam terhadap materi pelajaran, bukan hanya hafalan.
Ini melibatkan pemikiran kritis, keterlibatan aktif siswa, dan penerapan konsep dalam dunia nyata, bertujuan untuk menciptakan pemahaman yang lebih bermakna dan berkelanjutan. Jayalah Jabarku. ***














