NARASITODAY.COM, BOGOR- Bank Mandiri memperkuat komitmennya dalam mendukung pembangunan nasional melalui program unggulan Mandiri Sahabat Desa.
Program ini bekerja sama dengan Koperasi Produsen Gerak Nusantara Bogor Raya (K-GNBR) untuk memberdayakan lebih dari 200 petani sorgum di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor.
Selama 10 bulan ke depan, para petani akan mendapat pelatihan terpadu mulai dari budidaya sorgum, pengolahan hasil panen untuk pakan ternak, hingga produksi tepung dan olahan pangan.
Bank Mandiri juga memberikan edukasi literasi keuangan serta akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Peluncuran program dilaksanakan di Jasinga pada Rabu (30/7/2025) dengan ditandai pemotongan bulir dan batang daun sorgum serta uji coba mesin sosoh dan penepung bantuan Bank Mandiri.
Acara dihadiri Wakil Menteri Desa dan PDT Ahmad Riza Patria, Dirjen Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa Tabrani, Regional CEO Bank Mandiri Region V/Jakarta 3 Lourentius Aris Budiyanto, serta Founder Tambiyaku yang juga alumni Wirausaha Muda Mandiri 2023, Muhammad Bayu Hermawan.
Wamen Desa dan PDT Ahmad Riza Patria menegaskan pentingnya sorgum dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
“Sorgum adalah cermin kemandirian desa. Ini bukan hanya komoditas, tapi bagian dari pembangunan berdaulat,” ujarnya.
Regional CEO Bank Mandiri, Aris Budiyanto, menyebut program ini ditargetkan mampu mengaktifkan lahan tidur di Jasinga dan menghasilkan pasokan hingga 50 ton sorgum per bulan dari 10 hektare lahan. Harga jual diharapkan meningkat menjadi Rp5.000–Rp6.000/kg.
“Kami juga dorong keterlibatan perempuan desa agar dampak sosial ekonomi lebih merata. Ini bagian dari semangat kedaulatan pangan dan pengurangan ketimpangan wilayah,” katanya.
Dia menyebut, program ini sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam mengurangi ketimpangan wilayah dan mengaktifkan aset tidak produktif.
Jadi kata dia, Bank Mandiri merancang Mandiri Sahabat Desa sebagai platform berkelanjutan yang mendukung pemberdayaan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan sosial.
“Kami ingin desa menjadi pusat pertumbuhan, bukan sekadar penerima pembangunan. Kami percaya desa bisa mandiri dan kompetitif,” tukasnya.***














