NARASITODAY.COM – Setelah pertemuan bersejarah antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska pekan lalu, sorotan dunia beralih ke Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Dalam pernyataannya, Zelensky menuduh Moskow sengaja menghalangi kemungkinan dialog langsung antara dirinya dan Putin untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari dua tahun.
“Ukraina, berbeda dengan Rusia, tidak takut dengan pertemuan antar-pemimpin,” tegas Zelensky, dikutip dari BBC, Minggu (24/8/2025).
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menyatakan bahwa Putin terbuka untuk bertemu dengan Zelensky, namun menyebut belum ada agenda konkret. Lavrov juga menuding Zelensky kerap menolak berbagai inisiatif diplomatik.
Trump Dorong Pertemuan Puncak, NATO Siapkan Jaminan Keamanan
Setelah pekan diplomasi yang intens, Trump menyebut konflik Rusia-Ukraina sebagai salah satu yang paling sulit untuk dihentikan. Ia mengaku tengah mempersiapkan pertemuan puncak antara Putin dan Zelensky, dengan dukungan dari NATO dan negara-negara Eropa untuk merancang jaminan keamanan bagi Ukraina.
Zelensky menekankan bahwa jaminan dari Barat sangat penting agar kesepakatan damai benar-benar berjalan dan mencegah agresi di masa depan. “Ini adalah awal dari sebuah usaha besar, dan ini tidak mudah, karena jaminannya mencakup apa yang dapat diberikan mitra kami kepada Ukraina, seperti apa seharusnya tentara Ukraina, dan di mana kami dapat menemukan peluang bagi tentara untuk mempertahankan kekuatannya,” ujarnya.
Ketika ditanya soal harapan rakyat Ukraina terhadap proses diplomasi ini, Zelensky menjawab, “Mungkin saya pamer, tetapi Washington merasa berhasil. Mengapa? Karena ya, Ukraina membutuhkan jaminan keamanan. Tetapi tanpa AS, Eropa tidak akan memberikan semua yang bisa diberikannya kepada kita.”
Ia menambahkan, “Saya tidak tahu bagaimana ini akan berakhir, tetapi ini jauh lebih baik daripada satu atau dua minggu yang lalu. Kami melihat persatuan di Washington. Ini masih bersifat politis, tetapi ini hanyalah langkah pertama bagi semua orang untuk mengupayakan jaminan keamanan.”
NATO dan Eskalasi di Lapangan
Sekjen NATO Mark Rutte menyatakan bahwa langkah Trump bertujuan memecah kebuntuan konflik, dan aliansi tengah bekerja keras agar Rusia tidak lagi berani menyerang Ukraina. “Terlalu dini untuk mengatakan secara pasti apa yang akan menjadi hasilnya,” ucap Rutte.
Namun, harapan damai kembali diuji. Pada Kamis (21/8), Rusia meluncurkan salah satu serangan terberat dalam beberapa pekan terakhir, dengan 574 drone dan 40 rudal menghantam wilayah Ukraina dalam semalam.
Di sisi lain, Ukraina membalas dengan menyerang stasiun pompa minyak di Bryansk, Rusia, yang menyebabkan terhentinya aliran minyak melalui pipa Druzhba ke Hungaria dan Slovakia.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














