NARASITODAY.COM – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menetapkan mata pelajaran pilihan baru berupa koding dan kecerdasan buatan (AI) mulai tahun ajaran 2025/2026.
Kebijakan ini diambil sebagai langkah strategis untuk membekali siswa dengan keterampilan masa depan, sesuai proyeksi World Economic Forum yang menempatkan AI dan big data sebagai kompetensi utama pada 2030.
Namun, kebijakan tersebut mendapat kritik dari anggota Komisi X DPR RI Fraksi PAN, Muhammad Hoerudin Amin. Ia menilai bahwa pada jenjang pendidikan dasar, anak-anak seharusnya lebih difokuskan pada penguatan konsep dasar, bukan langsung dikenalkan pada teknologi kompleks.
“Jangan sok mewah kita belajar koding-AI, tetapi anak jadi bodoh walaupun informasinya deras. Ini kecerdasan itu kan dalam konteks bagaimana kecerdasannya terolah, terbangun, terbentuk. Makanya tradisi dongeng itu lebih mencerdaskan daripada tradisi visualisasi,” ujar Hoerudin dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI bersama Mendikdasmen yang disiarkan daring, Selasa (26/8/2025), dikutip Rabu (27/8/2025).
Ia menyarankan agar pendekatan pembelajaran lebih sederhana dan merakyat, seperti mendongeng, yang menurutnya lebih efektif dalam membangun imajinasi anak dan tidak membutuhkan biaya besar.
Menanggapi kritik tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa mata pelajaran koding dan AI masih bersifat opsional dan belum diwajibkan secara nasional. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan fasilitas dan kompetensi guru di sejumlah sekolah.
“Juga belum semua guru memiliki kemampuan itu, sehingga sekarang kami terus melakukan pelatihan pembelajaran mendalam, koding, kecerdasan artifisial, dan bimbingan konseling untuk memperbaiki persoalan karakter anak-anak kita,” jelas Mu’ti.
Ia juga menyampaikan bahwa pendekatan dongeng tidak harus ditinggalkan, bahkan bisa dikembangkan melalui teknologi.
“Karena sekarang memang kalau kita mengikuti World Economic Forum, skill yang paling diperlukan untuk 5 tahun yang akan datang itu ranking satunya adalah AI dan big data, sehingga anak-anak kita memang sejak awal sudah diberi kemampuan itu,” katanya.
Mu’ti menambahkan bahwa kementeriannya tetap mendukung tradisi literasi keluarga melalui program mendongeng yang digagas oleh Badan Bahasa.
“Bahkan kami melakukan gerakan-gerakan berbasis keluarga untuk menghidupkan kembali tradisi literasi berbasis keluarga,” tandasnya.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com














