NARASITODAY.COM – Rencana ekspansi manufaktur sarung tangan oleh perusahaan Tiongkok di kawasan ASEAN diperkirakan akan memperburuk prospek bisnis bagi produsen utama Malaysia.
Menurut laporan Free Malaysia Today, RHB Research mengungkapkan bahwa pembangunan fasilitas baru di Indonesia dan Vietnam berpotensi mengancam dominasi ekspor Malaysia ke pasar Amerika Serikat.
Lembaga riset tersebut memperkirakan kapasitas produksi dari pabrik-pabrik baru itu bisa mencapai 10 miliar unit per tahun, atau sekitar 6% dari total kapasitas lima perusahaan sarung tangan terbesar di Malaysia.
“Pemeriksaan saluran distribusi menunjukkan bahwa kapasitas baru oleh produsen Tiongkok di Indonesia akan mulai beroperasi pada Oktober 2025,” ujar RHB Research dalam pernyataannya pada Kamis (18/9/2025).
RHB juga menyebutkan bahwa proses kunjungan pabrik kemungkinan telah dimulai. Biasanya, pembeli besar membutuhkan waktu sekitar empat bulan untuk melakukan validasi pasca-kunjungan sebelum memesan dalam jumlah besar. Dalam skenario terbaik, pengiriman produk bisa dimulai dalam lima hingga delapan bulan setelahnya.
Dari sisi harga, sarung tangan generik yang diproduksi di fasilitas baru tersebut diperkirakan akan dijual lebih murah dibandingkan produk Malaysia.
“Kami memperkirakan harga jual rata-rata (ASP) untuk sarung tangan generik yang diproduksi di pabrik-pabrik baru ini akan lebih murah US$ 1-2 (per 1.000 buah) daripada US$ 18-19 yang saat ini ditawarkan oleh produsen Malaysia,” jelas RHB.
Langkah perusahaan Tiongkok mendirikan pabrik di negara-negara ASEAN dinilai sebagai strategi untuk menghindari tarif tinggi dari AS, menekan biaya produksi, serta memperluas dan mendiversifikasi rantai pasokan. Strategi ini dikenal sebagai pendekatan “Tiongkok plus satu”, yang bertujuan mengurangi risiko ketergantungan penuh pada manufaktur domestik.
Sementara itu, ekspor sarung tangan Malaysia menunjukkan pemulihan sebesar 64% secara bulanan pada Juli, setelah mengalami penurunan selama empat bulan berturut-turut. Secara tahunan, ekspor meningkat 6%. Namun, peningkatan tersebut lebih banyak mengarah ke pasar non-AS. Pangsa ekspor ke AS kini hanya 45%, turun tajam dari 75% pada Juni.
“Persaingan di luar AS masih jauh lebih ketat karena penetapan harga yang agresif oleh produsen Tiongkok, yang terus melemahkan pesaing regional,” tambah RHB Research.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber













