NARASITODAY.COM – Pernikahan seharusnya menjadi momen bahagia dan penuh keharmonisan. Namun, kenyataannya tidak sedikit pasangan yang menghadapi masalah serius berupa Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) setelah menikah.
Mengenali sifat-sifat pasangan yang berpotensi memicu KDRT sejak awal sangat penting sebagai langkah proteksi dan pencegahan. Berikut lima sifat pasangan yang bisa menjadi pemicu KDRT setelah pernikahan:
1. Terlalu Posesif dan Mengontrol
Pasangan yang selalu ingin mengontrol setiap gerakan dan aktivitasmu, mulai dari siapa temanmu hingga bagaimana kamu berpakaian, merupakan tanda bahaya. Sifat posesif ini tidak hanya membatasi kebebasan, tapi bisa berkembang menjadi penghambatan yang lebih serius, bahkan sampai ancaman fisik.
2. Mudah Marah dan Sulit Mengendalikan Emosi
Temperamen tinggi dan emosional yang tidak terkendali seringkali menjadi pemicu utama terjadinya kekerasan fisik atau verbal. Jika pasangan mudah tersulut amarah karena hal-hal kecil, ada potensi besar bahwa mereka akan melampiaskan kemarahan dengan cara yang merugikan.
3. Pernah Melakukan Kekerasan, Sekalipun Terlihat Sepele
Tindakan kekerasan yang pernah terjadi, seperti mencubit, mendorong, atau melempar barang saat marah, walaupun terlihat kecil, adalah alarm serius. Kekerasan ringan tersebut bisa berulang dan meningkat intensitasnya jika tidak segera diatasi.
4. Sering Merendahkan dan Menghina
Kekerasan verbal seperti menghina, membandingkan dengan orang lain, atau membuat pasangan merasa tidak berharga adalah bentuk kekerasan yang merusak mental dan emosional korban. Sikap ini bisa jadi pemicu trauma jangka panjang.
5. Tidak Bisa Menerima Penolakan dan Selalu Ingin Menang
Pasangan yang tidak mau menerima ‘tidak’ dan selalu memaksakan kehendaknya dengan ancaman atau cara kasar menunjukkan sikap dominasi yang berbahaya. Sikap ingin selalu menang ini dapat berujung pada kekerasan sebagai alat mempertahankan kontrol.
Memahami sifat-sifat ini sejak awal bisa membantu mengambil keputusan lebih bijak dan menjaga diri dari hubungan yang berpotensi berbahaya. Pernikahan sehat harus dibangun atas dasar saling menghargai, komunikasi yang baik, dan rasa aman bagi kedua belah pihak.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














