
NARASITODAY.COM, CHICAGO/WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa kedelai akan menjadi salah satu topik utama dalam pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung empat pekan mendatang. Pernyataan ini disampaikan di tengah kekhawatiran petani AS yang mengalami kerugian besar akibat minimnya pembelian dari China.
“Petani kedelai di negara kita dirugikan karena China, hanya karena alasan ‘negosiasi’, tidak membeli,” tulis Trump melalui platform Truth Social pada Rabu (1/10/2025).
Pasar Kedelai AS Tertekan
Hingga saat ini, importir China belum melakukan pembelian kedelai dari panen musim gugur AS, meski periode tersebut merupakan puncak pemasaran hasil panen. Sebagai importir kedelai terbesar dunia, China justru beralih ke pasokan dari Amerika Selatan, yang berdampak langsung pada penurunan harga kedelai AS dan potensi kerugian miliaran dolar bagi petani.
Senator John Hoeven dari North Dakota menyampaikan bahwa belum ada indikasi pembelian akan segera dilakukan oleh China. “Dia tidak memberi indikasi bahwa penjualan akan segera terjadi,” kata Hoeven, merujuk pada hasil briefing dengan Duta Besar AS untuk China, David Perdue. Ia menambahkan, “Diskusi lebih pada soal menjaga tekanan agar pembelian dilakukan, sambil memastikan dukungan bagi para petani kita.”
Diplomasi Dagang dan Janji Trump
Trump kembali menegaskan komitmennya untuk menggunakan pendapatan dari tarif sebagai bentuk bantuan bagi petani AS. Ia juga menyebut bahwa dirinya dan Xi telah sepakat untuk bertemu langsung di Korea Selatan pada akhir Oktober, bertepatan dengan forum APEC di Gyeongju. Selain itu, Trump berencana mengunjungi China awal tahun depan, sementara Xi dijadwalkan akan berkunjung ke AS di kemudian hari.
Langkah diplomatik ini memunculkan harapan bahwa China akan kembali membeli produk pertanian AS sebagai bagian dari kesepakatan dagang. “Sekarang mereka membeli dari Amerika Selatan dan menggunakan itu untuk menekan kita dalam negosiasi,” kata Hoeven.
Kesepakatan Lama dan Harapan Baru
Pada 2020, Trump pernah menandatangani kesepakatan dagang dengan China yang mencakup komitmen pembelian produk pertanian AS senilai puluhan miliar dolar. Kesepakatan itu juga membuka akses pasar yang lebih luas bagi petani AS. Namun, target pembelian tersebut tidak pernah sepenuhnya dipenuhi oleh China, yang terus berupaya mendiversifikasi sumber pangannya.
Menanggapi situasi ini, Juru Bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, menyatakan bahwa kerja sama dagang antara kedua negara seharusnya bersifat saling menguntungkan.
“Kami berharap AS dapat bekerja sama dengan China untuk mengimplementasikan pemahaman penting yang dicapai para kepala negara dalam panggilan telepon mereka,” ujarnya.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber













