NARASITODAY.COM, NEW YORK – Domino’s Pizza mencatatkan kinerja yang melampaui prediksi analis pada kuartal ketiga tahun ini, didorong oleh strategi promosi agresif dan peluncuran menu baru yang berhasil menarik minat konsumen di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
Perusahaan melaporkan pertumbuhan penjualan sebesar 5,2% di gerai yang sama di Amerika Serikat, melampaui proyeksi analis yang hanya memperkirakan kenaikan 4%, berdasarkan data dari LSEG.
Untuk menjawab tantangan ekonomi yang membuat konsumen lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang, Domino’s kembali meluncurkan promo “Best Deal Ever” pada 25 Agustus. Penawaran ini memungkinkan pelanggan membeli pizza dengan topping apa saja seharga US$ 9,99.
Selain itu, Domino’s juga memperkenalkan varian baru seperti pizza dengan pinggiran keju parmesan isi (parmesan-stuffed crust), sebagai bagian dari strategi menarik pelanggan yang mencari nilai lebih dalam setiap pembelian.
Langkah ini sejalan dengan tren yang juga diadopsi oleh pelaku industri makanan cepat saji lainnya. Misalnya, PepsiCo mulai menawarkan produk dalam kemasan kecil dengan harga lebih terjangkau, strategi yang terbukti efektif untuk menjangkau konsumen dari kalangan berpenghasilan rendah.
Domino’s juga meraih manfaat dari kemitraannya dengan layanan pengantaran DoorDash, yang membantu meningkatkan volume pesanan. Di tengah persaingan ketat dengan jaringan besar seperti McDonald’s dan Burger King, perusahaan terus memperluas program loyalitasnya dengan berbagai penawaran menarik.
“Di saat banyak restoran cepat saji kesulitan meningkatkan penjualan, Domino’s tampaknya telah menemukan formula yang tepat untuk sukses,” ujar analis EMarketer, Zak Stambor, dikutip oleh Reuters.
Laba per saham perusahaan untuk kuartal yang berakhir pada 7 September tercatat sebesar US$ 4,08, mengungguli estimasi analis yang berada di angka US$ 3,97. Namun, di pasar internasional, pertumbuhan penjualan di gerai yang sama hanya mencapai 1,7%, sedikit di bawah ekspektasi sebesar 1,9%, dengan permintaan yang fluktuatif di wilayah seperti Jepang dan Australia.
Meski mencatat pertumbuhan secara keseluruhan, margin laba kotor di gerai milik perusahaan di AS mengalami penurunan sebesar 0,5 poin persentase dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku utama seperti keju dan daging babi.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














