NARASITODAY.COM, JAKARTA – Dari sorotan kamera internasional ke lorong sunyi penjara La Santé, mantan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy kini menghadapi babak baru dalam hidupnya. Pada Selasa (21/10), ia resmi mulai menjalani hukuman penjara selama lima tahun setelah dinyatakan bersalah dalam kasus konspirasi penggalangan dana kampanye ilegal dari Libya.
Keputusan ini menjadi titik balik dramatis bagi sosok yang pernah dikenal karena kepercayaan diri dan pengaruhnya di panggung global. Sarkozy, yang memimpin Prancis dari 2007 hingga 2012, kini tercatat sebagai mantan pemimpin Prancis pertama yang dipenjara sejak kolaborator Nazi, Marshal Philippe Pétain, usai Perang Dunia II.
“Saya tidak takut penjara. Saya akan tetap menegakkan kepala, bahkan di depan gerbang penjara,” tegas Sarkozy kepada La Tribune Dimanche sebelum penahanannya.
Penempatan di Sel Isolasi Penjara La Santé Sarkozy akan menjalani masa tahanan di unit isolasi Penjara La Santé, Paris fasilitas bersejarah yang pernah menampung tokoh seperti Carlos the Jackal dan Manuel Noriega. Kepala sistem pemasyarakatan Prancis, Sebastien Cauwel, menjelaskan bahwa Sarkozy akan ditempatkan secara terpisah.
“Dia akan memiliki akses ke halaman olahraga dua kali sehari secara terpisah, ruang aktivitas pribadi, dan akan sendirian di dalam selnya,” ujar Cauwel kepada RTL Radio.
Sel berukuran 9–12 meter persegi itu telah direnovasi, dilengkapi kamar mandi pribadi, televisi berbayar seharga 14 euro per bulan, serta telepon tetap pribadi.
Puncak dari Skandal Dana Kampanye Libya Hukuman ini merupakan klimaks dari penyelidikan panjang atas dugaan bahwa kampanye presiden Sarkozy tahun 2007 menerima jutaan euro secara ilegal dari pemimpin Libya, Muammar Gaddafi. Meski dinyatakan bersalah berkonspirasi dengan para pembantunya, Sarkozy dibebaskan dari tuduhan menerima atau menggunakan dana secara langsung.
Ia tetap bersikeras tidak bersalah dan menyebut kasus ini sebagai bermotif politik. Walaupun telah mengajukan banding, hukum Prancis mengharuskannya tetap menjalani hukuman selama proses banding berlangsung.
Sebelumnya, Sarkozy juga divonis bersalah dalam kasus korupsi terpisah, di mana ia mencoba memperoleh informasi rahasia dari seorang hakim dengan imbalan bantuan karier. Hukuman tersebut dijalani dengan tanda elektronik di pergelangan kaki.
Persiapan Mental dan Fisik Pengacara Sarkozy, Jean-Michel Darrois, mengungkapkan bahwa kliennya telah mempersiapkan diri menghadapi masa tahanan. “Ia membawa beberapa sweater karena penjara bisa dingin, dan penyumbat telinga karena mungkin bising,” kata Darrois kepada Franceinfo Radio.
Dalam wawancara dengan Le Figaro, Sarkozy menyebut akan membawa tiga buku, termasuk “The Count of Monte Cristo” karya Alexandre Dumas kisah tentang seorang pria yang dipenjara secara tidak adil dan bertekad membalas dendam kepada para pengkhianatnya.
Reaksi Politik dan Publik Putusan pengadilan memicu reaksi keras dari sekutu politik Sarkozy dan kelompok sayap kanan. Namun, para pengamat menilai ini sebagai sinyal perubahan dalam sistem hukum Prancis terhadap kejahatan kerah putih.
Jika dulu politisi bisa menghindari penjara meski divonis bersalah, kini pengadilan lebih sering menerapkan ketentuan “pelaksanaan sementara” hukuman dijalankan segera, bahkan saat banding masih berlangsung. Tokoh sayap kanan Marine Le Pen juga terkena ketentuan serupa dan dilarang mencalonkan diri hingga proses bandingnya selesai tahun depan.
Menurut survei Elabe untuk BFM TV yang dirilis 1 Oktober, 58% warga Prancis menilai putusan terhadap Sarkozy adil, dan 61% mendukung pelaksanaan hukuman tanpa menunggu banding.
Empati dari Rekan dan Pemimpin Presiden Emmanuel Macron, yang dikenal memiliki hubungan baik dengan Sarkozy dan istrinya Carla Bruni, dikabarkan telah bertemu Sarkozy menjelang pelaksanaan hukuman. Menteri Kehakiman Gérald Darmanin, yang juga dekat dengan Sarkozy, menyatakan kepada France Inter Radio bahwa ia berencana menjenguk mantan presiden tersebut di penjara.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














