Puasa 24 Jam, Apa Saja yang Terjadi Pada Tubuh Kita?

0
foto (freepik)

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Puasa seharian penuh tanpa makan sering dianggap biasa, apalagi buat beberapa orang yang sedang mencoba tren diet intermiten fasting. Namun ternyata, tubuh manusia mengalami proses yang cukup mengejutkan ketika tidak mendapatkan asupan makanan selama 24 jam.

Menurut beberapa sumber kesehatan internasional, tubuh sudah mulai berubah sejak beberapa jam awal puasa. Dalam 4 jam pertama, metabolisme mulai melambat dan kadar insulin turun. Tubuh kemudian memakai glukosa yang tersimpan sebagai sumber energi sementara.

Baca Juga :  Waspada! 7 Tanda Kelelahan Otak yang Perlu Diwaspadai

Ketika sudah melewati 12 jam tanpa makanan, tubuh memasuki fase ketosis, yaitu memakai lemak sebagai bahan bakar utama. Meski sebagian orang merasa lapar mulai mereda, rasa lelah justru bisa muncul terutama pada mereka yang tetap beraktivitas berat.

Masuk ke sekitar jam ke-16, tubuh memasuki fase autophagy, yaitu proses alami ketika sel-sel yang rusak dan tidak diperlukan tubuh mulai dibersihkan. Ini sering disebut seperti proses “detoks alami”, meski para ahli menilai masih perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan manfaat medisnya secara pasti.

Baca Juga :  Ilmuwan Temukan Senyawa Pemicu Kanker pada Makanan Harian, Begini Penjelasannya

Menariknya lagi, di sekitar 18 jam puasa, hormon pertumbuhan disebut dapat meningkat sangat tinggi hingga beberapa ratus persen. Kondisi ini memberi sinyal bahwa tubuh sedang memaksimalkan pembakaran lemak sambil mempertahankan massa otot.

Sampai akhirnya di jam ke-24, tubuh melakukan regenerasi sel secara lebih aktif. Sel-sel lama mulai digantikan dengan yang baru dan lebih efisien, sehingga bisa membantu memperkuat sistem imun. Sensitivitas insulin pada tahap ini juga meningkat, sehingga tubuh lebih siap menerima nutrisi ketika kembali makan.

Baca Juga :  Rahasia Awet Muda dari Secangkir Kopi? Bongkar 5 Keajaiban Kafein untuk Kulit!

Meski banyak yang menganggap puasa 24 jam dapat membawa manfaat, para ahli tetap mengingatkan bahwa metode ini tidak bisa dijadikan cara instan untuk sehat. Perubahan pola makan seperti ini sebaiknya tetap dipertimbangkan matang, dan kalau bisa disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing dengan konsultasi ahli kesehatan terlebih dahulu. (MG3)

 

 

Editor : Mutiara

Sumber : detikfood