NARASITODAY.COM, JAKARTA – Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat untuk hidup sehat—mulai dari rajin berolahraga hingga memilih makanan bernutrisi seperti buah dan sayur—para ilmuwan justru menemukan fakta baru yang cukup mengejutkan. Beberapa bahan pangan yang selama ini dianggap aman, ternyata bisa mengandung senyawa berbahaya bernama polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs).
Temuan ini berasal dari penelitian tim ilmuwan di Seoul National University of Science and Technology yang dipimpin Prof Joon-Goo Lee. PAHs dikenal sebagai senyawa organik yang bersifat karsinogenik dan bisa muncul pada berbagai jenis makanan, baik nabati maupun hewani.
Pada buah dan sayuran, PAHs bisa muncul akibat paparan polusi udara, air irigasi tercemar, hingga tanah yang terkontaminasi. Sementara pada daging, ikan, hingga makanan asap atau panggang, PAHs biasanya terbentuk saat proses memasak pada suhu tinggi—misalnya ketika makanan bersentuhan langsung dengan api atau asap. Bagian makanan yang gosong atau terlalu cokelat bahkan memiliki kadar PAHs lebih tinggi.
Melihat risiko tersebut, para peneliti menekankan pentingnya metode pengujian pangan yang cepat dan akurat. Pendekatan tradisional seperti solid-phase atau liquid-liquid extraction seringkali memakan waktu dan kurang efisien. Karena itu, tim peneliti menguji metode alternatif bernama QuEChERS (Quick, Easy, Cheap, Effective, Rugged, and Safe).
Metode ini mampu mengekstraksi PAHs dengan lebih cepat dan hasil yang lebih bersih, menggunakan cairan khusus asetonitril sebelum sampel disaring dan dianalisis. Ketika diuji melalui teknik gas chromatography–mass spectrometry, metode ini terbukti sangat sensitif hingga mampu mendeteksi PAHs pada kisaran mikrogram per kilogram.
Prof Lee mengatakan, metode ini bukan hanya mempercepat analisis, tetapi juga lebih ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya. Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Food Science and Biotechnology dan dinilai berpotensi meningkatkan sistem keamanan pangan di industri.
Menurut para peneliti, pemantauan yang lebih akurat dapat membantu melindungi konsumen sekaligus memastikan makanan yang kita konsumsi sehari-hari tetap aman. (MG3)
Editor : Mutiara
Sumber : detikHealth














