Hong Kong Kebakaran Hebat! Perancah Bambu Sebabkan Kematian 2 WNI

0
kebakaran
Tragedi kebakaran besar di kompleks apartemen Wang Fuk Court, Hong Kong, menewaskan 55 orang termasuk dua PRT asal Indonesia, sementara dua WNI lainnya terluka.Foto : Reuters

NARASIYTODAY.COM, HONG KONG — Tragedi kebakaran hebat yang melanda kompleks apartemen Wang Fuk Court di Tai Po telah menelan korban jiwa, termasuk dua Pekerja Rumah Tangga (PRT) asal Indonesia.

Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Hong Kong membenarkan kabar duka tersebut, seraya melaporkan bahwa dua Warga Negara Indonesia (WNI) lainnya mengalami luka-luka dan kini tengah menjalani perawatan.

Dikutip dari The Independent, Kamis (27/11/2025), kebakaran yang dinilai sebagai salah satu insiden paling mematikan dalam tiga dekade terakhir di Hong Kong ini telah memakan 55 korban jiwa. Hingga kini, identitas para korban masih dalam proses verifikasi mengingat luasnya skala kerusakan.

Baca Juga :  Final Piala Dunia Pertegas Pertemuan Trump-Sanchez di Tengah Ketegangan

Departemen Pemadam Kebakaran Hong Kong menaikkan status kebakaran ini ke tingkat lima, level tertinggi dalam sistem klasifikasi mereka, setelah kobaran api menghanguskan delapan menara kompleks selama lebih dari 15 jam.

Menurut The Guardian, sekitar 279 penghuni masih dinyatakan hilang, memicu operasi pencarian dan penyelamatan yang berlangsung tanpa henti. Sekitar 900 warga terpaksa mengungsi ke pusat penampungan terdekat.

Tragedi ini memicu seruan untuk investigasi menyeluruh, terutama mengenai kecepatan penyebaran api dan kondisi renovasi gedung. Fokus penyelidikan tertuju pada perancah bambu yang digunakan dalam konstruksi, yang dicurigai menjadi faktor kunci dalam penyebaran api.

Baca Juga :  Kritik Pedas atas Rencana Penambahan Dana Parpol, Masyarakat Diminta Awasi Transparansi

Dilansir dari BBC, sejumlah pakar keselamatan menilai struktur perancah bambu berperan besar dalam mempercepat penyebaran api. Kecurigaan ini menguat seiring dengan penangkapan tiga eksekutif perusahaan konstruksi yang diduga bertanggung jawab atas penggunaan material mudah terbakar, seperti jaring dan lembaran plastik.

Profesor Jiang Liming dari Hong Kong Polytechnic University menjelaskan bagaimana struktur tradisional tersebut menjadi jalur malapetaka.

“Rumpun perancah bambu yang saling terhubung antarblok apartemen bekerja bak ‘jembatan api’. Perancah bambu tersebut memungkinkan kobaran dengan cepat merambat dari satu gedung ke gedung lain hingga menimbulkan banyak korban,” ujar Profesor Jiang Liming.

Baca Juga :  Kebakaran Pabrik Obat di Gunungputri Dipicu Ledakan Mesin Oven

Meskipun perancah bambu telah lama menjadi ciri khas konstruksi Hong Kong, otoritas setempat baru-baru ini mengumumkan rencana untuk menggantinya secara bertahap dengan perancah baja yang lebih tahan api.

Jiang menambahkan bahwa kondisi arsitektur Wang Fuk Court yang dibangun pada tahun 1980-an turut memperburuk situasi. Jendela-jendela lama dengan kaca tunggal dinilai tidak kuat menahan panas tinggi.

“Berbeda dari jendela berlapis ganda di gedung modern, kaca tunggal ini mudah pecah ketika terpapar api, sehingga kobaran dapat menembus fasad dengan cepat,” tambahnya.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber