Lonjakan 11% Golongan Putus Asa Cari Kerja Jadi Alarm Pasar Tenaga Kerja RI

0
golongan
Ilustrasi seorang pria yang merasa kelelahan mencari perkerjaan. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menemukan adanya peningkatan signifikan pada golongan masyarakat yang tercatat sudah putus asa mencari kerja (discouraged workers) di Indonesia. Meskipun jumlahnya masih kecil dan tidak memengaruhi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), lonjakan ini memberikan sinyal adanya masalah ekonomi yang lebih dalam.

Fenomena ini mengindikasikan melemahnya mobilitas naik, keterbatasan layanan penempatan kerja, hingga meningkatnya mismatch antara keterampilan dan lowongan yang tersedia.

“Dengan kata lain, angka yang kecil bukan berarti persoalannya sepele. Di banyak negara, lonjakan kecil dalam kelompok ini sering mendahului stagnasi partisipasi kerja atau naiknya informalitas, terutama ketika kelompok rentan merasa peluang yang tersedia tidak realistis untuk dicapai,” dikutip dari Labor Market Brief LPEM FEB UI edisi November 2025, Selasa (2/12/2025).

Menggunakan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS, tim ekonom LPEM FEB UI mengungkapkan bahwa jumlah penduduk yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa per Februari 2025 mencapai 1,85 juta orang. Angka ini naik sekitar 11% dibanding catatan Februari 2024 yang sebesar 1,68 juta.

Baca Juga :  Krisis Industri Tekstil Penutupan Pabrik dan PHK Massal Mengancam Ekonomi Nasional

“Lonjakan belasan persen dalam satu tahun menunjukkan bahwa ada segmen penduduk yang bergeser dari posisi ‘mencari kerja’ menjadi ‘menyerah’, yang berarti kehilangan kepercayaan terhadap peluang pasar kerja yang tersedia,” tulis tim ekonom LPEM FEB UI dalam kajian terbarunya.

Kenaikan ini konsisten dengan temuan lembaga pembangunan tentang sulitnya mencari pekerjaan berkualitas. Laporan Bank Dunia, misalnya, menyimpulkan bahwa dua pertiga pekerjaan di Indonesia masih berada pada pekerjaan berproduktivitas rendah, sementara mayoritas tenaga kerja hanya berpendidikan menengah pertama atau lebih rendah.

Bank Dunia juga menyoroti lemahnya sistem informasi pasar kerja dan layanan penempatan kerja, membuat pencari kerja sering tidak memiliki panduan yang jelas. Dalam konteks ini, LPEM FEB UI menganggap wajar jika sebagian penduduk merasa upaya mencari pekerjaan mereka tidak realistis untuk dilanjutkan.

Kajian ini mengungkapkan bahwa kelompok putus asa didominasi oleh dua faktor utama: pendidikan rendah dan usia menengah-atas.

Baca Juga :  Shock! 5 Alasan Utama Kenapa Delegasi Tugas Jadi Trauma Kerja

1. Hambatan Pendidikan Struktural: Lebih dari separuh kelompok putus asa (50,07%) per Februari 2025 berasal dari penduduk dengan pendidikan SD atau tidak tamat SD.

“Angka ini menandakan bahwa hambatan struktural yang dialami kelompok berpendidikan rendah jauh lebih dalam daripada sekadar kurangnya lowongan. Mereka menghadapi kombinasi keterbatasan kemampuan dasar,” menurut tim ekonom LPEM FEB UI.

2. Diskriminasi Usia (Generasi X dan Senior): Berdasarkan kelompok generasi, Generasi X dan kelompok yang lebih tua menjadi penyumbang terbesar mencapai sekitar 38,17%. Mereka diikuti oleh Generasi Milenial (24,56%) dan Generasi Z (24,09%).

LPEM FEB UI menyoroti temuan ILO dan OECD yang mencatat bahwa diskriminasi usia yang tidak diakui secara formal sering menjadi alasan mengapa pekerja usia menengah menyerah lebih cepat.

“Kelompok ini berada pada rentang usia yang secara umum dianggap matang secara karier, tetapi justru menghadapi hambatan yang membuat mereka berhenti mencari pekerjaan,” sebagaimana tertera dalam Labor Market Brief LPEM FEB UI.

Baca Juga :  Bupati Bogor Hadiri Buka Puasa Bersama Sahabat Tunanetra Nurul Qolbi 

Secara geografis, provinsi dengan angka absolut tertinggi penduduk putus asa berada di Jawa Barat dan Jawa Tengah (masing-masing lebih dari 300 ribu orang), disusul DKI Jakarta. Uniknya, 60% dari kelompok ini tinggal di wilayah perkotaan.

“Bank Dunia mengamati bahwa kota-kota besar di negara berkembang sering menghadapi situasi di mana peluang kerja memang bertambah, tetapi akses terhadap peluang tersebut semakin tersaring oleh tingkat keterampilan,” tulis tim ekonom LPEM FEB UI, menjelaskan mengapa angka tinggi justru terjadi di pusat ekonomi.

LPEM FEB UI menilai pemerintah harus segera bertindak. Dalam jangka pendek, perlu diprioritaskan peningkatan informasi peluang kerja terverifikasi, layanan konseling kerja, dan program pelatihan singkat yang berbasis permintaan industri, khususnya bagi pencari kerja berpendidikan rendah dan Generasi Z.

Dalam jangka menengah, penekanan diletakkan pada pembaruan kurikulum pelatihan vokasional agar selaras dengan industri, pengembangan ekosistem layanan transisi karier bagi pekerja usia menengah, dan upaya mengurangi hambatan kerja bagi perempuan melalui penyediaan fasilitas penitipan anak di kawasan urban.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com