
NARASITODAY.COM, UKRAINA – Krisis populasi di Ukraina semakin mengkhawatirkan seiring perang berkepanjangan yang memakan korban jiwa dan memaksa jutaan warga mengungsi. Indikasi nyata terlihat di Hoshcha, sebuah kota kecil di Ukraina barat, di mana bangsal bersalin yang dulunya ramai kini nyaris kosong.
Sepanjang tahun 2025, hanya 139 bayi yang lahir di Hoshcha, turun drastis dari 164 pada tahun sebelumnya dan merosot jauh dibandingkan lebih dari 400 kelahiran yang tercatat satu dekade lalu.
“Banyak pemuda telah meninggal. Mereka seharusnya menjadi generasi penerus bangsa ini,” ujar ginekolog Yevhen Hekkel kepada Reuters, menyoroti dampak perang terhadap struktur demografi masa depan Ukraina, dikutip Kamis (4/12/2025).
Sejak invasi Rusia pada 2022, populasi Ukraina telah menyusut dari 42 juta menjadi kurang dari 36 juta, termasuk wilayah yang kini dikuasai Rusia. Lembaga demografi Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional memperkirakan angka ini bisa anjlok hingga 25 juta pada tahun 2051 jika tren saat ini berlanjut.
CIA World Factbook 2024 mencatat rasio kelahiran berbanding kematian yang mencengangkan satu kelahiran berbanding tiga kematian. Angka harapan hidup juga menunjukkan penurunan signifikan, di mana harapan hidup pria anjlok dari 65,2 tahun menjadi 57,3 tahun, sementara wanita turun dari 74,4 tahun menjadi 70,9 tahun.
Konsekuensi dari penurunan populasi ini terlihat jelas di tingkat lokal. Mykola Panchuk, kepala dewan kota Hoshcha, menyebutkan bahwa satu sekolah di desa Sadove terpaksa ditutup karena hanya memiliki sembilan murid.
“Tidak ada anak lagi. Dua tahun lalu kami menutupnya karena tak bisa beroperasi,” kata Panchuk.
Secara total, di wilayah Hoshcha dan sekitarnya, 141 warga tewas sejak 2022, dan banyak remaja serta pria muda memilih atau terpaksa meninggalkan negara itu.
Para ahli demografi memperingatkan bahwa krisis ini akan menimbulkan defisit tenaga kerja masif pasca-perang. Oleksandr Hladun, wakil kepala lembaga demografi, memperingatkan bahwa jutaan orang dibutuhkan untuk membangun kembali ekonomi.
“Defisit tenaga kerja bisa mencapai 4,5 juta dalam 10 tahun ke depan,” katanya.
Pemerintah telah meluncurkan strategi demografi 2040 untuk menahan emigrasi. Namun, jika tren berlanjut, populasi pada 2040 bisa merosot ke 29 juta, jauh dari target pemerintah yang ingin menaikkannya menjadi 34 juta.
Ketidakpastian perang telah membuat banyak pasangan menunda rencana memiliki anak. Anastasiia Yushchuk (21) mengatakan teman-temannya semakin ragu membangun keluarga. “Tidak ada stabilitas, tidak ada yang bisa dibangun. Hidup terlalu tidak pasti,” ujarnya.
Situasi di Hoshcha juga diwarnai cerita pilu. Oksana Formanchuk, warga setempat, kini tinggal sendirian di desa Duliby, di mana rumah-rumah mulai terbengkalai. “Suami saya hilang sejak Juli. Saya takut kedua putra saya juga akan direkrut,” tuturnya.
Bahkan bangsal bersalin Hoshcha sendiri kehilangan pendanaan pemerintah pada 2023 karena gagal mencapai target 170 kelahiran. “Kami kekurangan satu saja, bayi itu lahir 15 menit lewat tengah malam,” kenang Panchuk, menyoroti garis tipis penentuan nasib fasilitas kesehatan di tengah kondisi yang sulit.
Meskipun demikian, bagi sebagian warga, kelahiran tetap menjadi sumber harapan di tengah konflik. Anastasiia Tabekova, seorang pejabat dewan kota, menceritakan suaminya, yang bertugas di garis depan, mendapat izin khusus untuk hadir saat ia melahirkan.
“Anak-anak memberi alasan untuk tetap bertahan. Mereka adalah harapan di tengah keadaan yang gelap,” kata Tabekova.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com












