Penuh Makna! Kisah di Balik Kehadiran Pohon Natal dan Sinterklas

0
Natal
Ilustrasi Pohon Natal dan Sinterklas. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA — Bulan Desember identik dengan perayaan Natal yang sarat makna bagi umat Nasrani. Selain pohon Natal dan pernak-pernik khas akhir tahun, satu sosok yang hampir selalu hadir dalam perayaan ini adalah Sinterklas atau Santa Claus, figur yang dikenal luas sebagai pembawa hadiah dan simbol kasih sayang.

Sinterklas digambarkan sebagai pria lanjut usia berjanggut putih lebat, bertubuh tambun, dan mengenakan pakaian merah. Dalam cerita populer, ia berkeliling dari rumah ke rumah menggunakan kereta yang ditarik rusa, masuk melalui cerobong asap, dan meninggalkan hadiah bagi anak-anak sambil tertawa khas “ho-ho-ho”. Namun, di balik gambaran modern tersebut, Sinterklas memiliki akar sejarah panjang.

Baca Juga :  Tak Hanya Hijau, Ini 5 Fakta Unik di Balik Aurora Merah yang Muncul di Langit Dunia

Tokoh Sinterklas terinspirasi dari sosok nyata bernama Saint Nicolas, seorang uskup dari Myra yang hidup sekitar abad ke-3 Masehi. Nicolas lahir di Kota Patara, dekat Laut Mediterania, pada abad ketiga. Ia disebut sebagai anak tunggal yang kehadirannya telah lama dinantikan oleh orang tuanya, sehingga kelahirannya dianggap sebagai anugerah.

Seiring bertambahnya usia, Nicolas dikenal sebagai pribadi religius dengan kepedulian sosial yang tinggi. Bahkan sebelum mencapai usia 20 tahun, ia telah diangkat menjadi pastor. Setelah dewasa, ia menetap di Myra kini wilayah Demre, Turki dan menjabat sebagai uskup. Dalam perannya itu, Nicolas dikenal gemar memberikan hadiah kepada orang miskin dan anak-anak, sebuah kebiasaan yang kemudian melekat kuat dalam citra Sinterklas.

Baca Juga :  Kwarcab Pramuka Kabupaten Bogor Canangkan Penanaman 50.000 Pohon Kelapa Selama Lima Tahun

Tanggal kelahiran Nicolas yang jatuh pada 6 Desember, berdekatan dengan perayaan Natal, membuat sosoknya kian dikaitkan dengan hari raya tersebut. Ia dikenal sering memberi kado kepada sesama menjelang Natal. Pakaian Nicolas digambarkan menyerupai jubah imam dengan tongkat gembala, serta rambut agak panjang berwarna pirang.

Setelah wafat, Nicolas dipandang sebagai santo. Sejak saat itu, cerita tentang dirinya terus berkembang dan diperkaya dengan unsur legenda. Mitos mengenai Sinterklas yang datang pada malam Natal pun menyebar luas, dengan kisah yang disesuaikan dengan budaya di berbagai negara.

Baca Juga :  Kreatif dan Berkelanjutan: Mengubah Sisa Makanan Jadi Hidangan Lezat dan Bernilai

Namun, Gereja Katolik sempat mempertanyakan keabsahan kisah Nicolas. Paus Paulus VI menilai cerita tentang Nicolas terlalu simpang siur dan telah banyak bercampur dengan legenda. Berdasarkan catatan Ayatalkitab.id, pada 1970 Vatikan secara resmi menghapus nama Sinterklas dari daftar orang-orang kudus.

Pada 5 Desember 1972, sisa tulang-belulang Nicolas dipindahkan ke Amerika Serikat. Langkah ini disebut sebagai upaya agar masyarakat tidak terus terjebak pada mitos Sinterklas semata, melainkan kembali pada makna spiritual Natal itu sendiri.

Meski demikian, hingga kini sosok Sinterklas tetap hidup dalam budaya populer global sebagai simbol kegembiraan, berbagi, dan semangat kasih yang menjadi inti perayaan Natal.***

Editor : Alysa

Sumber : idntimes.com