NARASITODAY.COM, JAKARTA – Di balik deretan hits romantisnya yang kerap merajai tangga lagu, musisi Pamungkas ternyata menyimpan rasa kurang percaya diri yang mengejutkan. Meski lagu-lagu seperti Monolog atau Kenangan Manis sukses besar di telinga pendengar, penyanyi berusia 32 tahun ini mengaku lebih nyaman menulis lirik dalam bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia.
Bukan tanpa alasan, keengganan Pamungkas menulis dalam bahasa ibu berakar dari rasa kagum sekaligus tekanan terhadap band-band legendaris tanah air. Berada di bawah bayang-bayang lirik puitis khas era 90-an dan awal 2000-an membuatnya merasa memiliki standar yang sangat tinggi untuk dipenuhi.
“Gue tuh tumbuh di golden era ya, ada Slank, Padi, Dewa 19 dan lainnya. Dimana gue tumbuh dengan standar penulisan lagu dan lirik disitu. Ya pressure kali ya buat diri gue sendiri dimana standar lagu dan lirik Indonesia di masa itu tuh ada di situ (Dewa 19 dan lainnya),” ujar Pamungkas saat ditemui di Bengkel Space SCBD, Jakarta Selatan, Jumat (19/12/2025).
Ia menambahkan bahwa latar belakang musiknya pun lebih banyak dipengaruhi oleh musisi mancanegara. “Sementara gue tumbuh lewat hits Evanescence dan I’m Yours nya Jason Mraz, ya gak dipungkiri, keterbiasaan nyanyi dan nulis lagunya bahasa Inggris,” sambungnya.
Ketakutan Pamungkas sebenarnya sederhana: ia khawatir lirik yang ia buat akan terasa janggal atau cringe. Namun menariknya, perasaan “menggelitik” itu justru tidak hanya muncul saat ia mencoba menulis bahasa Indonesia. Saat meninjau kembali karya-karya lamanya yang berbahasa Inggris, Pamungkas sering kali merasa geli sendiri.
“Gue sering banget kayak lihat lagi lirik lagu-lagu lama gue, ‘kok gini ya?'” kata Pamungkas sambil tertawa.
Salah satu lagu yang kini membuatnya menyeringai saat membaca ulang liriknya adalah hits populer berjudul Only One. Meski lagu tersebut sangat dicintai penggemar, bagi sang pencipta, liriknya kini terasa kurang pas. “Iya sih, pas gue lihat lagi liriknya cringe sih,” imbuhnya jujur.
Walaupun memiliki ketakutan tersebut, fakta di lapangan menunjukkan hal yang kontras. Lagu-lagu berbahasa Indonesia miliknya justru menjadi anthem yang paling dikenal luas. Begitu intro Putus atau Kenangan Manis berkumandang, penonton hampir selalu langsung hanyut dalam koor massal membuktikan bahwa “standar” yang ditakutkan Pamungkas sebenarnya telah ia capai dengan caranya sendiri.***
Editor : Alysa
Sumber : detik.com














