NARASITODAY.COM – Batas antara kebutuhan berekspresi dan keinginan untuk diakui sering kali menjadi kabur. Tanpa disadari, banyak kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele ternyata menyimpan dorongan kuat untuk mencari validasi, baik dari media sosial maupun dari lingkungan sekitar.
Validasi sendiri merupakan kebutuhan manusiawi keinginan untuk diakui, dihargai, dan diterima. Namun ketika kebutuhan ini terlalu bergantung pada respons orang lain, kebiasaan sederhana bisa berubah menjadi tekanan psikologis. Berikut lima kebiasaan yang kerap luput disadari sebagai bentuk pencarian validasi.
1. Mengunggah Aktivitas Lalu Menunggu Respons
Mengunggah foto, cerita, atau pencapaian di media sosial sebenarnya hal wajar. Namun, ketika perasaan senang atau puas baru muncul setelah mendapat banyak “like”, komentar, atau dibagikan ulang, di situlah validasi mulai mengambil peran utama. Ketika respons minim, tak jarang muncul rasa kecewa atau mempertanyakan diri sendiri.
2. Menghapus Unggahan yang Sepi Interaksi
Kebiasaan menghapus unggahan karena dianggap “kurang ramai” menjadi sinyal lain pencarian pengakuan. Nilai sebuah momen atau pendapat seolah ditentukan oleh angka interaksi, bukan makna personal di baliknya.
3. Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Tanpa sadar, linimasa media sosial menjadi etalase perbandingan. Melihat pencapaian, gaya hidup, atau penampilan orang lain bisa memicu keinginan untuk terlihat setara atau bahkan lebih baik. Ketika rasa percaya diri naik-turun mengikuti perbandingan ini, validasi eksternal mulai mendominasi.
4. Selalu Ingin Dipuji atas Pilihan Pribadi
Mulai dari pilihan pakaian, hobi, hingga keputusan hidup, ada dorongan untuk memastikan bahwa pilihan tersebut mendapat persetujuan orang lain. Ketika pujian menjadi penentu rasa aman, seseorang bisa kehilangan kepercayaan pada penilaiannya sendiri.
5. Merasa Gelisah Saat Tidak Aktif di Media Sosial
Rasa takut ketinggalan perhatian atau tren (fear of missing out/FOMO) membuat sebagian orang merasa perlu terus hadir di media sosial. Ketika tidak mengunggah atau berinteraksi, muncul kecemasan seolah eksistensi diri ikut menghilang.
Mencari validasi bukanlah kesalahan. Namun, ketika kebahagiaan dan harga diri sepenuhnya bergantung pada pengakuan orang lain, keseimbangan emosional bisa terganggu. Mulai menyadari kebiasaan-kebiasaan kecil ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun validasi dari dalam diri menghargai proses, menerima kekurangan, dan menikmati pencapaian tanpa harus selalu dipamerkan.
Pada akhirnya, pengakuan dari orang lain memang menyenangkan, tetapi ketenangan yang berasal dari penerimaan diri sendiri jauh lebih bermakna dan bertahan lama.***
Editor : Alysa
Sumber : idntimes.com













