Fenomena ‘Rojali’ Menjadi Tantangan Baru bagi Pengelola Restoran dan Pusat Perbelanjaan di Indonesia

0
perbelanjaan
Ilustrasi dua wanita yang sedang menenteng tas belanjang dengan raut muka bahagian. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Lorong-lorong pusat perbelanjaan di kota-kota besar Indonesia tampak penuh sesak sepanjang tahun 2025. Namun, keramaian ini menyimpan paradoks bagi para peritel. Di balik deru langkah kaki pengunjung, muncul fenomena yang kini populer disebut sebagai “Rojali” (Rombongan Jarang Beli) dan “Rohana” (Rombongan Hanya Nanya).

Fenomena ini menjadi cermin pergeseran pola konsumsi masyarakat yang kian selektif di tengah bayang-bayang pelemahan daya beli. Meski trafik kunjungan mal meningkat sekitar 10% dibanding tahun lalu, angka tersebut nyatanya masih jauh dari target ideal pelaku usaha.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, mengonfirmasi bahwa pertumbuhan industri pusat belanja tahun ini diperkirakan hanya menyentuh angka satu digit, di bawah 10%.

“Pasti, karena kan sekarang masyarakat kelas menengah bawah cenderung beli barang produk yang harga satuannya, unit price-nya murah. Itu terjadi penurunan (omzet), pasti,” ujar Alphonzus saat ditemui di Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta.

Baca Juga :  Lolos Semifinal Piala AFF U-23, Garuda Muda Menanti Lawan Berat dari Grup C dan B

Bagi masyarakat, mal kini tak lagi sekadar tempat transaksi, melainkan ruang sosial dan hiburan murah meriah. Banyak pengunjung yang datang hanya untuk membandingkan harga dengan platform online atau sekadar mencari penyejuk udara di tengah teriknya cuaca.

“Jumlah kunjungan tetap naik meskipun tidak signifikan. Tetapi yang berubah itu kan pola belanjanya. Satu, mereka jadi lebih selektif berbelanja. Kalau tidak perlu, tidak ya,” jelas Alphonzus. Ia menambahkan bahwa fenomena ini wajar karena mal juga memiliki faktor edukasi dan hiburan.

Namun, perilaku ini menjadi tantangan serius bagi sektor restoran. Ketua PHRI DKI Jakarta, Sutrisno Iwantono, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pengunjung yang “nongkrong” berjam-jam namun hanya memesan ala kadarnya.

Baca Juga :  Dramatis! Tim Kano Indonesia Raih Emas SEA Games Usai Susul Ketertinggalan di 200 Meter Akhir

“Kalau di restoran pesannya misal cuma minum satu kopi secangkir, tapi ngobrolnya dua jam, yang lain mau makan susah, ya tidak mungkin restorannya diuntungkan kan kalau seperti ini,” keluh Sutrisno. Sebagai solusi, PHRI mempertimbangkan pembatasan waktu duduk pelanggan secara halus agar perputaran meja tetap terjaga.

Meski sektor pakaian dan barang tersier tertekan, sektor makanan dan minuman (F&B) justru masih memetik keuntungan. Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, menyebut sektor F&B menjadi “muara” terakhir para ‘Rojali’ setelah lelah berkeliling.

“Setelah mereka berputar melihat-lihat sesuatu di mall, biasanya kan mereka lelah ya, nah setelah itu mereka nongkrong untuk makan atau ya sekadar minum karena haus kan, nah dari sini lah sektor makanan dan minuman yang paling diuntungkan di mal,” kata Budihardjo.

Baca Juga :  5 Bahaya Tersembunyi dari Pemakaian Sports Bra, Perlu Diwaspadai

Memasuki akhir tahun 2025, optimisme mulai tumbuh seiring adanya stimulus pemerintah dan bantuan sosial yang mulai menggerakkan roda ekonomi. Meski demikian, Budihardjo mengingatkan bahwa karakter konsumen Indonesia telah berubah permanen.

“80% mereka ke mal cuma nonton, jalan-jalan, rapat. Cuma 20-an persen yang ke mal itu tujuannya untuk membeli,” pungkasnya.

Di tengah anomali ini, pembangunan mal di luar Jawa justru terus berekspansi. Daerah tier 2 dan tier 3 di Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra kini menjadi target baru, membuktikan bahwa meski “Rojali” merajalela, mal tetap menjadi magnet ekonomi lokal yang tak tergantikan.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com