NARASITODAY.COM, LONDON – Di bawah lengkungan kuno Westminster Abbey yang megah, Raja Charles III menyampaikan pesan Natal tahunannya pada Kamis (25/12/2025). Di usianya yang ke-77, sang raja tidak hanya membawa pesan religius, tetapi juga seruan mendalam tentang persatuan di tengah dunia yang kian terbelah oleh perang, migrasi, dan ketegangan sosial.
Siaran Natal keempatnya sejak naik takhta ini terasa lebih emosional, diiringi oleh harmoni suara paduan suara Ukraina yang mengenakan kemeja sulam tradisional vyshyvanka. Kehadiran mereka menjadi simbol visual dukungan tak tergoyahkan Charles terhadap Ukraina, negara yang pemimpinnya, Volodymyr Zelenskiy, telah ia jamu sebanyak tiga kali di Kastil Windsor sepanjang tahun 2025.
“Dengan keragaman komunitas kita yang luar biasa, kita dapat menemukan kekuatan untuk memastikan bahwa kebenaran menang atas kesalahan,” ujar Raja Charles III dalam pidatonya.
Meski dibatasi oleh protokol netralitas politik, Charles memberikan penekanan khusus pada krisis kemanusiaan global, termasuk konflik Israel-Gaza dan meningkatnya sentimen anti-minoritas. Ia berbagi pengalamannya bertemu dengan tokoh-tokoh dari berbagai keyakinan yang menurutnya memiliki tujuan akhir yang sama.
Charles mengungkapkan bahwa ia merasa terdorong oleh betapa banyak kesamaan yang mereka miliki, termasuk “kerinduan bersama akan perdamaian dan rasa hormat yang mendalam terhadap semua kehidupan”. Ia juga menyoroti pentingnya empati terhadap para migran di tengah meningkatnya kekhawatiran global mengenai perpindahan manusia.
Dalam momen refleksi yang kaya akan referensi Alkitab, raja memberikan penghormatan khusus kepada para veteran dan pekerja bantuan kemanusiaan. Ia memuji keberanian mereka dalam menghadapi kesulitan dan menyatakan bahwa mereka adalah sosok yang “memberinya harapan.”
Tahun 2025 merupakan tahun yang penuh warna bagi keluarga kerajaan Inggris. Secara personal, Charles membawa kabar baik mengenai kesehatannya setelah hampir dua tahun berjuang melawan kanker.
Ia mengumumkan bahwa pengobatannya kemungkinan besar dapat dikurangi pada tahun baru. Kabar baik serupa datang dari Catherine, Putri Wales, yang menyatakan telah pulih sepenuhnya setelah menyelesaikan kemoterapi.
Di sisi lain, dinamika keluarga tetap menjadi sorotan. Tahun ini Charles mengambil langkah tegas dengan mencabut gelar-gelar tersisa dari adiknya, Pangeran Andrew. Namun, tahun 2025 juga membawa momen rekonsiliasi yang jarang terjadi ketika sang raja bertemu dengan putra bungsunya, Pangeran Harry, pada September lalu.
Pertemuan singkat tersebut tampaknya memberikan bekas mendalam bagi Harry, yang kemudian secara terbuka menyatakan harapannya untuk penyembuhan hubungan keluarga. Harry menggambarkan hidup sebagai sesuatu yang “berharga” dan mengakui adanya waktu yang terbatas untuk memperbaiki keretakan di masa lalu.
Pesan Natal ini ditutup dengan kenangan kunjungan bersejarah Charles ke Vatikan pada Oktober lalu, sebuah simbol persatuan iman yang belum pernah terjadi sejak tahun 1534. Melalui pidato ini, Raja Charles III seolah ingin menegaskan bahwa di tengah guncangan dunia, solidaritas dan kasih sayang tetap menjadi kompas utama bagi kemanusiaan.***
Editor : Alysa
Sumber : Berbagai Sumber














