NARASITODAY.COM, RIYADH – Tabir kemitraan erat antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) kini tersingkap, menampakkan keretakan mendalam yang mencapai titik nadir. Pada pengujung 2025, serangan udara koalisi pimpinan Saudi secara mengejutkan menghantam wilayah pelabuhan Mukalla, Yaman selatan, yang merupakan basis kekuatan pro-Abu Dhabi.
Insiden berdarah pada Selasa (30/12/2025) tersebut memicu reaksi berantai yang dramatis. UEA secara resmi menarik seluruh sisa pasukannya dari Yaman demi alasan keselamatan personil, sekaligus menandai berakhirnya aliansi militer kedua negara yang telah berlangsung selama satu dekade di wilayah tersebut.
Sentuhan realitas geopolitik menunjukkan bahwa Yaman bukan lagi sekadar medan perang melawan pemberontak, melainkan panggung persaingan pengaruh antara Riyadh dan Abu Dhabi. Riyadh berdalih serangan tersebut dilakukan karena keamanan nasional mereka adalah “garis merah” yang terancam oleh pergerakan pasukan Dewan Transisi Selatan (STC) dukungan UEA yang mendekati perbatasan Saudi.
Ketegangan ini dirasakan sangat intens oleh para pengamat internasional. Neil Quilliam, rekan sejawat di think tank Chatham House, memberikan gambaran mengenai rapuhnya hubungan kedua raksasa minyak tersebut.
“Hubungan antara kedua negara memang tidak pernah mudah, tetapi gesekan kali ini tampaknya berada pada tingkat yang paling intens selama bertahun-tahun,” kata Neil Quilliam kepada Reuters.
Di balik gemuruh jet tempur di Yaman, ada api dalam sekam yang dipicu oleh konflik di benua lain: Sudan. Hubungan memanas setelah muncul laporan bahwa Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, diduga melobi Presiden AS Donald Trump untuk menjatuhkan sanksi kepada UEA atas keterlibatan mereka dalam perang saudara di Sudan.
Isu sanksi ini, ditambah perselisihan kuota minyak di OPEC+, menciptakan badai diplomatik yang sulit diredam. Kini, pasar energi global menahan napas menunggu pertemuan virtual OPEC+ hari Minggu mendatang, khawatir perseteruan dua pilar utama ini akan mengacaukan stabilitas harga minyak dunia.
Meskipun penarikan pasukan UEA dianggap sebagai langkah untuk menghindari konfrontasi fisik lebih lanjut, luka kepercayaan di antara kedua negara sudah terlanjur menganga. Namun, suara optimisme masih terdengar dari kalangan intelektual Emirat yang berharap aliansi ini tidak berakhir seperti pemboikotan Qatar tahun 2017 silam.
Akademisi terkemuka asal Emirat, Abdulkhaleq Abdullah, mengakui adanya jurang perbedaan yang sangat lebar, namun ia percaya diplomasi masih memiliki celah untuk perbaikan.
“Kami memang memiliki perbedaan pendapat soal Yaman 100%, dan perbedaan tersebut telah naik ke level yang lebih tinggi dengan eskalasi saat ini. Sekutu memang terkadang bentrok, tetapi mereka akan memperbaiki perbedaan tersebut dan membangun kembali apa yang menjadi kesamaan mereka,” ujar Abdulkhaleq Abdullah.
Kini, dunia menunggu apakah “saudara serumpun” di Teluk ini mampu menjahit kembali hubungan mereka, atau justru skenario boikot ekonomi baru akan segera dimulai di awal 2026.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














