NARASITODAY.COM, KIEV – Deru mesin perang dan puing-puing bangunan yang masih mengepulkan asap, sebuah misi kemanusiaan darurat sedang berpacu dengan waktu. Pemerintah Ukraina, melalui Kantor Koordinator Pusat untuk Evakuasi, secara resmi menginstruksikan evakuasi wajib bagi lebih dari 3.000 anak-anak beserta keluarga mereka dari wilayah panas Zaporizhzhia dan Dnipropetrovsk, Jumat (2/1/2026).
Langkah drastis ini diambil setelah tentara Rusia melancarkan serangan skala besar di Zaporizhzhia yang menghancurkan puluhan bangunan dan memicu kebakaran hebat di sebuah pusat perbelanjaan. Bagi anak-anak di sana, rumah bukan lagi tempat berlindung, melainkan zona bahaya yang mengancam nyawa.
Menteri Komunitas dan Pembangunan Teritorial, Oleksii Kuleba, merinci sebaran anak-anak yang harus segera meninggalkan medan tempur demi keselamatan mereka.
“Di Zaporizhzhia, terdapat 651 anak yang harus dievakuasi dari dua desa. Sedangkan di Dnipropetrovsk mencapai 2.463 anak yang harus dievakuasi dari 40 permukiman di lima desa,” terang Kuleba sebagaimana dikutip dari United24.
Kuleba juga menambahkan bahwa pihak berwenang kini tengah memantau ketat situasi di Chernihiv sebagai target evakuasi selanjutnya. Ia menekankan bahwa keberhasilan misi ini sangat bergantung pada solidaritas wilayah lain.
“Ini penting bahwa wilayah yang aman bersedia menampung anak-anak beserta keluarganya dari wilayah lain. Maka koordinasi mereka dalam memastikan kelayakan kondisi mereka dalam menjalani hidup normal,” tuturnya.
Evakuasi ini menjadi semakin mendesak di tengah kekhawatiran Kiev mengenai nasib anak-anak Ukraina di wilayah pendudukan. Sebelumnya, muncul laporan mengkhawatirkan bahwa beberapa anak Ukraina dikirim oleh Rusia ke kamp-kamp perang di Korea Utara untuk terpapar propaganda.
Sejak Juni lalu, gelombang pengungsian tak terbendung. Lebih dari 150.000 warga telah meninggalkan garis depan, termasuk 18.000 anak-anak dan 5.000 penyandang disabilitas. Untuk menampung mereka, pemerintah telah mengoperasikan 17 pusat transit yang menyediakan bantuan medis, psikologis, hingga dukungan finansial. Sebanyak 80.000 tempat akomodasi sementara juga telah disiagakan untuk memastikan mereka tidak telantar.
Tekanan militer Rusia tercatat mencapai puncaknya pada tahun 2025. Data dari The Moscow Times menunjukkan militer Rusia berhasil mencaplok wilayah seluas 5.600 km persegi sepanjang tahun lalu sebuah capaian terbesar sejak awal invasi 2022 jika dibandingkan dengan akumulasi tahun 2023 dan 2024.
Meskipun wilayah yang dicaplok masih jauh di bawah luas awal invasi, laju serangan yang intens memaksa ribuan keluarga Ukraina kehilangan ruang hidup mereka. Kini, prioritas tunggal pemerintah adalah memastikan bahwa meskipun mereka kehilangan tanah air, anak-anak Ukraina tidak kehilangan masa depan mereka.***
Editor : Alysa
Sumber : idntimes.com














