Tim Peneliti UGM Lancarkan Pemetaan Cepat Pasca Banjir Sumatra, Data Akurat Jadi Kunci Pemulihan

0
UGM
Dari peta satelit hingga rumah harapan, UGM bergerak cepat pascabanjir Sumatra. Lewat pemetaan berbasis data, pembangunan huntara “Rumah Geunira”, dan penyediaan air bersih bertenaga surya, langkah ilmiah ini menjadi fondasi kebangkitan penyintas dari krisis menuju pemulihan yang lebih terarah.Foto : dok.UGM

NARASITODAY.COM, YOGYAKARTA – Sisa-sisa lumpur dan genangan banjir yang melanda Sumatra, sekelompok peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja dalam senyap di depan layar monitor dan di lapangan. Hanya dalam waktu satu pekan pascabencana, tim ini berhasil menuntaskan misi rapid mapping (pemetaan cepat) secara penuh guna memastikan pemulihan Sumatra tidak lagi berjalan di atas rabaan asumsi.

Bukan sekadar peta biasa, produk spasial yang dihasilkan mencakup analisis mendalam mengenai aksesibilitas jalan hingga peta kebutuhan mendesak masyarakat. Data ini menjadi kompas utama bagi pemerintah dan relawan agar bantuan tidak menumpuk di satu titik sementara titik lain terlupakan.

Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muhammad Kamal, menegaskan bahwa akurasi data adalah kunci utama dalam manajemen krisis. Tanpa peta yang jelas, bantuan seringkali salah sasaran.

Baca Juga :  PM Jepang Shigeru Ishiba Mundur, Jepang Hadapi Ketidakpastian Politik dan Ekonomi

“Dalam banyak kejadian bencana, bantuan sering tidak merata karena tidak didukung data spasial yang akurat. Kami ingin mengubah pola tersebut dari berbasis asumsi menjadi berbasis data,” ujar Prof. Kamal, sebagaimana dilansir laman UGM, Minggu (4/1/2026).

Kerja keras ini didukung oleh teknologi satelit tingkat tinggi. Anggota tim peneliti lainnya, Dr. Nur Mohammad Farda, menjelaskan bahwa timnya memanfaatkan portal Disasters Charter PBB untuk mengintip kondisi dari luar angkasa.

“Kami melakukan interpretasi citra satelit dari portal Disasters Charter untuk mengidentifikasi permukiman terdampak banjir dan memetakan tingkat kerusakan secara cepat pada fase emergency,” ungkap Dr. Farda.

Inovasi UGM tidak berhenti di atas kertas peta. Di Desa Geudumbak, Aceh Utara, sains bertransformasi menjadi tiang-tiang kayu yang kokoh. UGM bersama Rumah Zakat mulai membangun 100 unit hunian sementara (huntara) bernama “Rumah Geunira”.

Baca Juga :  BPBD Bogor Distribusikan 10.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Banjir Cipinang

Rumah papan berukuran 6 x 6 meter ini dirancang khusus agar warga yang kehilangan tempat tinggal bisa ikut membangunnya sendiri secara mandiri. Ketua Tim UGM, Ashar Saputra, Ph.D., menekankan pentingnya keterlibatan warga agar mereka merasa memiliki kembali harapan yang sempat lumat oleh bencana.

“Rumah papan berukuran 6 x 6 meter tersebut memungkinkan proses pengerjaan berjalan cepat, efisien, dan aman bagi penyintas. Melalui pelatihan keterampilan konstruksi bagi warga, proses dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan warga sebagai pelaku utama,” tutur Ashar pada Sabtu (3/1).

Menurutnya, langkah ini bukan sekadar memberi atap, tapi juga memulihkan mental warga. “Pendekatan ini menumbuhkan rasa kepemilikan warga dan memperkuat kesiapan masyarakat untuk melanjutkan proses pembangunan hunian secara mandiri,” tambahnya.

Baca Juga :  Protes Massal di Filipina Pecah Akibat Skandal Proyek Banjir Fiktif Bernilai Miliaran Dolar

Melengkapi infrastruktur hunian, UGM juga membawa solusi bagi krisis air bersih. Berkolaborasi dengan universitas lokal seperti UTU dan Politeknik Lhokseumawe, sistem penjernih air bertenaga surya kini telah berdiri di RSUD Bener Meriah.

Dengan kapasitas mencapai 3.800 liter per hari, alat ini menjadi “nadi kehidupan” baru di posko pengungsian dan pusat kesehatan. Pemanfaatan tenaga surya memastikan sistem tetap bekerja meski jaringan listrik konvensional masih lumpuh total akibat banjir.

Kini, dengan peta di tangan dan rumah yang mulai berdiri, penyintas bencana di Sumatra memiliki pondasi yang lebih kuat untuk bangkit kembali.***

Editor : Alysa

Sumber : detik.com