NARASITODAY.COM, TEHERAN – Di sebuah negara yang berpijak di atas cadangan minyak mentah terbesar ketiga di dunia sekitar 209 miliar barel sebuah ironi pahit sedang terjadi. Bukan minyak bumi yang menjadi pembicaraan hangat di meja makan warga Iran, melainkan minyak goreng. Bahan pokok ini mendadak hilang dari peredaran, meninggalkan rak-rak supermarket yang kosong melompong dan harga yang melambung tak terjangkau.
Krisis ini bermula sejak pemerintah Iran menghapus subsidi nilai tukar dan beralih ke sistem nilai tukar tunggal. Kebijakan moneter yang drastis ini langsung memukul urat nadi pasokan pangan, memicu kelangkaan massal sekaligus lonjakan harga yang mencekik konsumen.
Laporan lapangan dari berbagai kota menunjukkan pemandangan yang serupa: supermarket yang biasanya penuh kini hanya menyisakan deretan rak kosong. Jika pun ada, minyak goreng dijual secara sembunyi-sembunyi dengan harga “gelap” yang mencapai dua kali lipat dari harga resmi.
Sebagai gambaran, kemasan kecil 675 gram kini dibanderol sekitar 180.000 toman (Rp56.000). Sementara itu, untuk ukuran 5 kilogram, warga harus merogoh kocek hingga 1,8 juta toman atau sekitar Rp565.000 sebuah angka yang membuat minyak goreng praktis tersingkir dari daftar belanja harian kelas menengah ke bawah.
Kepala Serikat Supermarket dan Produk Protein Teheran, Shahrokh Sharifi, mengonfirmasi bahwa distribusi memang sedang tersumbat akibat transisi mekanisme mata uang.
“Kekurangan minyak goreng ini jelas terlihat,” ujar Shahrokh Sharifi kepada media lokal seperti dikutip Iran Wire, Rabu (7/1/2026).
Menurut Sharifi, meski harga baru telah disetujui, pasar masih menunggu pengumuman resmi. Ketidakpastian ini dimanfaatkan oleh sejumlah produsen dan distributor untuk menahan pasokan guna menghindari kerugian atau mencari keuntungan lebih besar saat harga baru dirilis.
Pemerintah Iran sebenarnya tidak tinggal diam. Mereka menjanjikan bantuan tunai sebesar satu juta toman (sekitar Rp314.000) per rumah tangga untuk meredam dampak inflasi. Namun, bagi masyarakat yang kini harus menghadapi kenyataan harga minyak 4,5 kilogram yang sudah mencapai satu juta toman, bantuan tersebut dianggap hanya “penambal” sesaat.
Di pasar-pasar tradisional, para pedagang terpaksa menjual minyak secara satuan atau dalam porsi terbatas demi memenuhi permintaan yang membludak di tengah stok yang kian menipis. Situasi ini menambah daftar panjang tantangan ekonomi bagi warga Iran, yang kini harus berjuang mendapatkan barang esensial di tengah kekayaan energi yang melimpah di bawah kaki mereka.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














