NARASITODAY.COM, WASHINGTON D.C. – Langit politik Washington yang kini berubah arah, pemerintahan Presiden Donald Trump mengambil langkah drastis yang mengguncang tatanan multilateral global. Amerika Serikat (AS) secara resmi berencana menarik diri dari total 66 organisasi internasional, sebuah manuver yang menandai berakhirnya keterlibatan aktif negeri Paman Sam dalam berbagai agenda iklim, kesetaraan gender, hingga bantuan demokrasi.
Langkah ini mencakup pengunduran diri dari 31 entitas di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan 35 organisasi non-PBB. Keputusan ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah pernyataan ideologis tentang kedaulatan yang mutlak.
Gedung Putih dalam pernyataan resminya memberikan alasan tajam di balik eksodus massal ini. Washington menilai lembaga-lembaga tersebut tidak lagi selaras dengan kepentingan nasional dan justru menjadi wadah bagi agenda-agenda keberagaman yang mereka labeli sebagai “woke”.
“Amerika Serikat tidak akan lagi berpartisipasi dalam forum internasional yang tidak sejalan dengan kepentingan nasional dan kedaulatan kami,” demikian bunyi memorandum kebijakan terbaru Gedung Putih.
Salah satu pukulan terberat bagi komunitas internasional adalah penarikan diri AS dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC). Dengan keluarnya AS dari UNFCCC, Washington secara efektif meninggalkan seluruh meja negosiasi iklim dunia, memperkuat langkah Trump menarik AS dari Perjanjian Paris untuk kedua kalinya yang akan berlaku pada 27 Januari 2026.
Meskipun memutuskan hubungan dengan puluhan lembaga, Gedung Putih tampak masih menyisakan “pintu terbuka” untuk organisasi yang dianggap vital bagi stabilitas keamanan dan bantuan kemanusiaan yang konkret. AS dipastikan tetap menjadi anggota Dewan Keamanan PBB, Program Pangan Dunia (WFP), serta Badan Pengungsi PBB (UNHCR).
Namun, bagi organisasi seperti UN Women, UNFPA (Dana Kependudukan PBB), hingga International IDEA (Institut Demokrasi dan Bantuan Pemilu), bendera bintang-garis milik AS tidak akan lagi berkibar di meja rapat mereka.
Daftar Organisasi yang Ditinggalkan
Eksodus ini menyasar berbagai sektor sensitif. Berikut adalah rincian beberapa organisasi utama yang ditinggalkan:
31 Entitas di Bawah PBB, di antaranya:
- Isu Iklim & Lingkungan: UNFCCC (Perubahan Iklim), UN-REDD (Deforestasi), UN-Habitat, UN Water, dan UN Energy.
- Isu Sosial & Gender: UN Women, UNFPA (Kependudukan), dan Forum Tetap Orang Keturunan Afrika.
- Pembangunan & Ekonomi: UNCTAD (Perdagangan), UNDEF (Dana Demokrasi), serta berbagai komisi ekonomi regional (ECLAC, ESCAP, ESCWA).
35 Organisasi Non-PBB, di antaranya:
- Sains & Lingkungan: IPCC (Panel Iklim), IRENA (Energi Terbarukan), Aliansi Surya Internasional (ISA), dan IUCN (Konservasi Alam).
- Hukum & Demokrasi: International IDEA, IDLO (Hukum Pembangunan), dan Komisi Venesia.
- Teknologi & Keamanan: Koalisi Kebebasan Daring (FOC) dan Forum Kontraterorisme Global (GCTF).
Langkah ini diperkirakan akan menciptakan kekosongan pendanaan dan kepemimpinan pada banyak inisiatif global. Di saat dunia tengah menghadapi krisis iklim dan tantangan demokrasi, Washington memilih untuk kembali ke dalam cangkangnya, memprioritaskan “America First” di atas komitmen kolektif yang telah dibangun selama puluhan tahun.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














