NARASITODAY.COM, TEHERAN – Deburan ombak Selat Hormuz yang sempit, kini membayangi awan gelap ketegangan yang sanggup melumpuhkan ekonomi dunia. Jalur vital yang menjadi “napas” bagi sepertiga minyak mentah global melalui laut ini kembali menjadi titik didih setelah Presiden AS Donald Trump dilaporkan mulai menimbang opsi kebijakan keras terhadap Iran.
Situasi ini bukan sekadar gertakan politik di atas kertas. Bagi pasar energi, ancaman di Selat Hormuz adalah lonceng peringatan akan potensi krisis yang bisa membuat harga bahan bakar melonjak seketika di berbagai belahan dunia.
Data intelijen pasar dari Kpler menunjukkan betapa krusialnya jalur ini: sepanjang tahun 2025, rata-rata 13 juta barel minyak mentah melintasi selat ini setiap harinya. Jumlah tersebut setara dengan 31% arus minyak global. Jika Teheran merasa terdesak oleh tekanan domestik dan eksternal, pilihan untuk mengganggu lalu lintas kapal tanker menjadi skenario yang menakutkan.
“Gangguan di Selat Hormuz bisa memicu krisis minyak dan gas global, terutama jika rezim Iran merasa terpojok dan bertindak secara putus asa,” kata Kepala Riset Energi MST Marquee, Saul Kavonic, Senin (12/1/2026).
Senada dengan Kavonic, Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, menilai risiko Iran jauh lebih besar dibandingkan konflik minyak di negara lain seperti Venezuela. Menurutnya, ada peluang 70% terjadinya serangan selektif AS terhadap Iran yang bisa memicu reaksi berantai.
Saat ini, harga minyak Brent masih stabil di kisaran US$63 per barel, sementara WTI berada di angka US$59. Namun, ketenangan ini diprediksi tidak akan bertahan lama jika retorika berubah menjadi aksi militer.
Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, memberikan gambaran yang mencemaskan mengenai volatilitas harga.
“Kekhawatiran penutupan Selat Hormuz saja bisa mendorong harga naik beberapa dolar per barel. Namun jika benar-benar ditutup, harga minyak bisa melonjak US$10-US$20 per barel,” ujar Lipow.
Dampak ini pun akan memukul langsung raksasa ekonomi seperti China, yang menurut analis Kpler, Muyu Xu, harus segera mencari pasokan alternatif jika kilang-kilang mereka kehilangan akses dari Iran.
Meski ketegangan meningkat, banyak pihak masih menaruh harapan pada logika diplomasi dan kekuatan militer. Kehadiran Armada Laut AS di kawasan tersebut dianggap sebagai “pagar” yang akan membuat Iran berpikir dua kali untuk menutup selat secara total.
Terlebih lagi, pasar minyak saat ini sedang mengalami surplus pasokan sekitar 2,5 juta hingga 3 juta barel per hari. Hal ini memberikan sedikit bantalan bagi dunia jika terjadi gangguan skala kecil.
Namun, sebagaimana diungkapkan Saul Kavonic, setiap upaya penutupan paksa jalur internasional ini dipastikan akan memicu balasan militer besar-besaran dari AS dan sekutunya. Di Selat Hormuz, kedamaian kini hanya setipis kertas, menunggu apakah diplomasi atau mesiu yang akan berbicara lebih dulu.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














