
NARASITODAY.COM, CONCEPCION – Langit di atas Chile bagian tengah dan selatan berubah menjadi jingga pekat saat kebakaran hutan yang dipicu oleh panas ekstrem terus meluas. Hingga Senin (19/1/2026), pemerintah secara resmi menetapkan status darurat nasional setelah sedikitnya 19 orang dilaporkan tewas dalam bencana yang kini mengancam pemukiman padat penduduk.
Di tengah kepulan asap yang menyesakkan, ribuan warga terpaksa melakukan evakuasi massal. Puluhan titik api yang masih aktif dilaporkan bergerak liar, menghanguskan apa pun yang dilaluinya dalam sekejap mata.
Suhu udara yang diperkirakan melonjak hingga 37 derajat Celsius menjadi tantangan terbesar bagi petugas pemadam kebakaran. Meski sempat mereda saat malam hari, ancaman belum berakhir. Menteri Keamanan Chile, Luis Cordero, mengungkapkan bahwa kewaspadaan tinggi tetap menjadi prioritas utama tim di lapangan.
“Perkiraan kami hari ini menunjukkan suhu yang tinggi,” ujar Cordero dalam konferensi pers, sebagaimana dikutip dari Reuters. Ia juga menegaskan kekhawatiran pemerintah akan situasi yang kian tak menentu, “munculnya kebakaran baru di berbagai wilayah menjadi kekhawatiran utama.”
Hingga Minggu malam, badan kehutanan Chile (CONAF) melaporkan setidaknya 23 titik api masih menyala hebat. Presiden Gabriel Boric telah menginstruksikan pengerahan sumber daya maksimal di wilayah Nubble dan Bio Bio yang kini berstatus darurat bencana.
Skala kehancuran ini hampir sulit dibayangkan; sekitar 20.000 hektar lahan luas yang setara dengan kota Seattle telah menjadi abu. Di sekitar kota pesisir Concepcion saja, api telah melalap lebih dari 14.000 hektar. Kota Penco dan Lirquen kini tinggal puing setelah ratusan rumah hancur dihantam api selama akhir pekan.
Saat ini, fokus utama petugas adalah menyelamatkan infrastruktur vital, termasuk penjara Manzano di pinggiran Concepcion dan kota Tome di utara yang kini berada di jalur pergerakan api.
Bencana ini bukan sekadar insiden lokal. Gelombang panas yang mencekik Chile juga menghantam tetangganya, Argentina. Sebelumnya pada bulan ini, wilayah Patagonia di Argentina telah kehilangan 15.000 hektar lahan akibat kebakaran serupa.
Fenomena ini menjadi pengingat pahit tentang kerentanan wilayah Amerika Selatan terhadap perubahan iklim yang ekstrem. Di Chile, otoritas setempat masih terus mendata kerusakan dan korban jiwa, sementara raungan sirine pemadam kebakaran menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan di kota-kota yang kini tertutup debu dan jelaga.***
Editor : Alysa
Sumber : cnnindonesia.com













