Seruan Boikot Piala Dunia 2026 Menguat di Inggris Usai Ancaman Trump

0
Piala Dunia
Desakan boikot Piala Dunia 2026 menggema di Parlemen Inggris sebagai respons atas kebijakan agresif Presiden AS Donald Trump, dengan sejumlah politisi menilai panggung sepak bola dunia sebagai alat tekanan diplomatik terhadap Washington. Foto : presisijambi.com

NARASITODAY.COM, LONDON – Rumput hijau Amerika Serikat yang seharusnya menjadi panggung pesta sepak bola dunia kini dibayangi mendung gelap diplomasi. Gelombang desakan untuk memboikot Piala Dunia 2026 mulai menggema di koridor Parlemen Inggris, menyusul langkah agresif Presiden AS Donald Trump yang mengancam kedaulatan Greenland dan memicu perang dagang dengan negara-negara Eropa.

Sentimen ini menyatukan suara lintas partai di London. Para politisi Inggris menilai bahwa menyerang “ego” sang Presiden melalui panggung olahraga terbesar sejagat adalah satu-satunya cara untuk meredam kebijakan luar negeri Washington yang kian tak terkendali.

Anggota parlemen senior dari Partai Konservatif, Simon Hoare, menjadi salah satu sosok yang paling lantang menyuarakan perlawanan. Baginya, diplomasi biasa tidak lagi cukup untuk menghadapi gaya kepemimpinan Trump.

Baca Juga :  Tak Terduga, 5 Kota Dunia yang Terlihat Biasa Saja Tapi Penuh Kisah Horor dan Angker

“Kita perlu melawan api dengan api. Trump mudah tersinggung, memiliki ego besar, dan tidak suka dipermalukan,” ujar Hoare di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat Inggris, sebagaimana dikutip dari Guardian, Selasa (20/1/2026).

Hoare menekankan bahwa membiarkan tim nasional Inggris berlaga di tanah Amerika sama saja dengan memberikan panggung bagi Trump. “Haruskah tim sepak bola kita bermain di stadion Amerika untuk Piala Dunia? Ini adalah hal-hal yang akan mempermalukan presiden di dalam negeri,” tambahnya.

Nada serupa datang dari Luke Taylor, anggota parlemen Liberal Demokrat. Ia memandang bahwa satu-satunya bahasa yang dimengerti oleh sang Presiden adalah reputasi pribadinya. “Satu-satunya hal yang dia tanggapi adalah harga dirinya sendiri,” kata Taylor singkat.

Baca Juga :  Drama Adu Penalti Seru, Arsenal Tembus Semifinal Piala Liga Usai Kalahkan Crystal Palace 8-7

Kritik lebih tajam dilontarkan oleh Kate Osborne dari Partai Buruh. Ia menyoroti rekam jejak hak asasi manusia hingga serangan Trump terhadap supremasi hukum sebagai alasan kuat mengapa AS tidak layak menjadi pusat perhatian dunia.

“Amerika Serikat seharusnya tidak boleh berpartisipasi dalam Piala Dunia, apalagi menjadi tuan rumahnya,” tegas Osborne kepada Metro.

Kemarahan London dipicu oleh pengumuman tarif impor 10% yang akan melonjak menjadi 25% pada 1 Juni mendatang jika kesepakatan terkait pengambilalihan Greenland dari Denmark tidak tercapai. Kebijakan ini tidak hanya menghantam Inggris, tetapi juga sekutu NATO lainnya seperti Jerman dan Prancis.

Perdana Menteri Keir Starmer dalam konferensi pers darurat menyatakan penolakan kerasnya. Ia menyebut kebijakan tarif tersebut “sama sekali salah” dan memperingatkan risiko rusaknya aliansi transatlantik. Di Jerman, politisi Jurgen Hardt bahkan menyebut boikot sebagai “jalan terakhir” untuk “membuat Trump sadar akan masalah Greenland.”

Baca Juga :  Penggeledahan KPK di Dinas Perkim Lampung Tengah Terkait Dugaan Korupsi Proyek PUPR OKU

Piala Dunia 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli, seharusnya menjadi turnamen terbesar dengan 48 tim peserta. Dengan 78 dari 104 pertandingan yang direncanakan digelar di 11 kota AS, boikot dari negara besar seperti Inggris bisa menjadi tamparan keras bagi keberlangsungan turnamen ini.

Kini, nasib The Three Lions dan persahabatan lama antara London dan Washington bergantung pada apakah ego politik atau sportivitas global yang akan menang di menit-menit akhir sebelum sepak mula dimulai.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com