Tangan Trump Terlihat Memar Usai Hadiri WEF Davos, Publik Pertanyakan Kondisi Kesehatan

0
Trump
Ilustrasi tangan memar. Foto : uniad.ac.id

NARASITODAY.COM, WASHINGTON – Di tengah hiruk-pikuk diplomasi global di Davos, Swiss, sebuah detail kecil di tangan kiri Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru menjadi pusat perhatian dunia. Memar gelap yang tampak kontras pada kulit sang Presiden memicu spekulasi mengenai kondisi kesehatannya, sesaat setelah ia menutup kunjungannya di World Economic Forum (WEF), Kamis (22/1/2026).

Lensa kamera para fotografer menangkap perubahan tersebut usai Trump menghadiri peluncuran inisiatif global “Board of Peace (BoP)”. Padahal, dalam dokumentasi di awal acara BoP serta kegiatan sehari sebelumnya, jejak memar tersebut sama sekali tidak terlihat.

Sadar akan sorotan publik yang kian tajam, Trump memberikan klarifikasi singkat kepada awak media di atas pesawat kepresidenan Air Force One dalam perjalanan pulang menuju Washington. Dengan gaya bicaranya yang khas, ia menepis kekhawatiran publik.

Baca Juga :  Dari Pelatih hingga Masseur, Semua Tim Bulutangkis Indonesia Akan Dievaluasi Besok!

“Saya terbentur meja,” kata Trump kepada wartawan, sebagaimana dikutip dari AFP.

Namun, ia juga memberikan sinyal bahwa kondisi tersebut merupakan efek samping dari upaya menjaga kebugaran jantungnya.

“Saya akan bilang, minumlah aspirin jika Anda peduli dengan jantung Anda, tapi jangan minum aspirin jika Anda tidak ingin mengalami sedikit memar,” tambah dia, merujuk pada sifat aspirin sebagai pengencer darah yang mempermudah munculnya lebam.

Ini bukan pertama kalinya tangan Trump menjadi perbincangan. Sejak kembali menduduki kursi kepresidenan tahun lalu, pria berusia 79 tahun ini beberapa kali terlihat memiliki memar yang kerap ia tutupi dengan riasan atau perban.

Baca Juga :  Indonesia Hadir di WEF Davos 2026, Tegaskan Diplomasi Ekonomi dan Promosi Investasi

Gedung Putih sebelumnya telah memberikan penjelasan medis bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan kebiasaan berjabat tangan yang erat serta konsumsi rutin aspirin. Meski demikian, detail fisik Trump lainnya seperti pembengkakan pada kaki dan momen-momen saat ia tampak tertidur di acara publik tetap menjadi catatan bagi pengamat kesehatan.

Pihak medis kepresidenan sebelumnya menjelaskan bahwa pembengkakan kaki tersebut disebabkan oleh insufisiensi vena kronis, sebuah kondisi umum yang menurut mereka dapat ditangani dengan prosedur medis rutin.

Isu kesehatan Trump memang selalu menjadi topik sensitif di Washington. Kunjungan rumah sakit yang tidak diumumkan secara resmi pada tahun lalu sempat memicu kecurigaan publik akan adanya informasi yang disembunyikan.

Baca Juga :  Pemkot Bogor Gandeng BUMD, Optimalkan Aset untuk Tambah Sentra Dapur

Namun, beberapa pekan setelah kunjungan misterius itu, tim dokter kepresidenan merilis pernyataan resmi untuk meredam kegaduhan. Mereka menegaskan bahwa hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan sang Presiden berada dalam kondisi yang “sangat baik” dan mampu menjalankan tugas negara secara penuh.

Di tengah memar dan tanda-tanda penuaan yang tertangkap kamera, Trump tetap menunjukkan langkah yang tegak, seolah ingin menegaskan bahwa di balik lebam tipis itu, ia masih memegang kendali penuh atas kekuasaan di Washington.***

Editor : Alysa

Sumber : cnnindonesia.com