Thailand Gelar Pemilu 8 Februari, Persaingan Tiga Poros Partai

0
Koh Phangan
Ilustrasi Bendera Thailand. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, BANGKOKThailand kini berada di persimpangan jalan sejarah. Pada 8 Februari mendatang, jutaan rakyat Thailand akan menuju kotak suara untuk menentukan pemimpin mereka dalam empat tahun ke depan. Di balik spanduk kampanye yang memenuhi jalanan Bangkok hingga pelosok desa, terdapat pertarungan sengit antara 93 nama yang diajukan partai politik sebagai calon Perdana Menteri (PM).

Namun, dari puluhan nama tersebut, panggung politik mengerucut pada tiga poros besar: sang petahana yang pragmatis, klan dinasti yang mencoba bertahan, dan gerakan anak muda yang menuntut perubahan radikal.

Di puncak peta persaingan, duduk Anutin Charnvirakul (59). PM sementara sekaligus Ketua Partai Bhumjaithai ini dikenal sebagai “belut” politik yang piawai bermanuver. Sejak naik takhta pada September lalu menggantikan Paetongtarn Shinawatra yang diberhentikan pengadilan, Anutin memperkuat posisinya melalui lobi agresif.

Baca Juga :  Apa Saja 5 Dampak Fisik dan Emosional ketika Berhenti Menyusui?

Meski partainya bukan pemenang suara terbanyak, ia berhasil menguasai kementerian strategis. Sosok yang mencatat sejarah lewat dekriminalisasi ganja ini dipandang sebagai figur penyeimbang antarelite. Peluangnya bertahan sangat bergantung pada “kekuatan tawar” di balik pintu tertutup pascapemilu nanti.

Partai Pheu Thai mengandalkan Yodchanan Wongsawat (46). Profesor teknik biomedis ini memikul beban berat nama besar klan Shinawatra sebagai keponakan Thaksin dan Yingluck. Mengingat sejarah kelam di mana enam PM dari gerbong ini tumbang oleh kudeta atau pengadilan, Yodchanan tetap rendah hati. Ia secara puitis menggambarkan posisinya sebagai “orang kecil di atas bahu raksasa.”

Baca Juga :  Dominasi Sang Gajah Perang,Thailand Rebut Kembali Takhta Piala AFF Futsal 2026 dari Indonesia

Di sisi lain, Bhumjaithai juga menyiapkan opsi teknokrat pada sosok Sihasak Phuangketkeow (67), diplomat karier yang kini menjabat Menteri Luar Negeri, guna memberikan citra stabilitas di mata internasional.

People’s Party, inkarnasi dari Move Forward yang dibubarkan, mengusung Natthaphong Ruengpanyawut (38). Arsitek strategi digital ini merupakan Pemimpin Oposisi termuda dalam sejarah Thailand. Ia didampingi oleh Sirikanya Tansakun (44), pakar ekonomi yang sebelumnya diproyeksikan menjadi menteri keuangan.

Baca Juga :  Putra Robert Mugabe Didakwa Percobaan Pembunuhan di Johannesburg

Namun, jalan mereka terjal. Ancaman hukum terus membayangi. Sebagai langkah antisipasi, muncul nama Veerayooth Kanchoochat (46), doktor lulusan Cambridge, yang disiapkan sebagai kandidat cadangan jika Natthaphong dan Sirikanya terganjal kasus hukum terkait undang-undang monarki.

Jika pemilu berakhir tanpa pemenang mutlak, nama Abhisit Vejjajiva (61) diprediksi akan muncul. Lulusan Oxford yang piawai berpidato ini bisa menjadi “jalan tengah” jika terjadi kebuntuan politik antara faksi konservatif dan progresif, mengulang perannya saat menjabat PM pada periode 2008–2011.

Thailand kini bersiap. Antara kelanjutan status quo, kembalinya kejayaan dinasti, atau ledakan perubahan anak muda, jawabannya akan ditentukan dalam hitungan hari.***

Editor : Alysa

Sumber : Berbagai Sumber