NARASITODAY.COM – Berhenti menyusui atau proses menyapih anak merupakan masa transisi penting yang dihadapi oleh ibu dan bayi. Selain perubahan pola makan bayi, ibu juga mengalami berbagai perubahan fisik dan emosional yang signifikan.
Berikut ini adalah lima dampak fisik dan emosional yang kerap dialami ibu saat berhenti menyusui, berdasarkan penjelasan dari berbagai sumber kesehatan.
1. Pembengkakan dan Nyeri pada Payudara
Saat menyapih, produksi ASI pada payudara tetap berjalan sementara pemberian ASI pada bayi berkurang atau berhenti. Akibatnya, ASI menumpuk di payudara sehingga terasa penuh, membengkak, dan nyeri.
Dalam beberapa kasus bisa terjadi mastitis, yaitu infeksi dan peradangan saluran ASI yang membuat payudara terasa sangat sakit, merah, dan hangat. Untuk mengurangi ketidaknyamanan ini, ibu dianjurkan untuk memerah ASI secara perlahan dan menggunakan kompres hangat.
2. Perubahan Hormon yang Memicu Gejala Fisik
Berhenti menyusui menyebabkan penurunan hormon prolaktin dan oksitosin yang selama ini mendukung produksi ASI dan perasaan relaksasi. Perubahan hormon ini bisa menimbulkan gejala fisik seperti sakit kepala, mual, kulit kering, jerawat, hingga stretch mark. Tubuh juga akan menyesuaikan diri dengan kembalinya siklus menstruasi yang biasanya tertunda selama menyusui.
3. Perubahan Suasana Hati dan Emosi
Perubahan hormon juga berdampak pada kondisi emosional ibu. Banyak ibu merasakan suasana hati yang lebih sensitif, mudah emosional, bahkan perasaan sedih, marah, atau rasa kehilangan karena ikatan khusus selama menyusui mulai berkurang. Beberapa ibu mengalami depresi ringan hingga berat pasca menyapih, terutama jika prosesnya dilakukan secara tiba-tiba atau tidak sesuai keinginan.
4. Kelelahan dan Gangguan Tidur
Penyesuaian hormon dan kondisi fisik selama proses menyapih dapat menyebabkan ibu menjadi mudah lelah, bahkan kelelahan ekstrem. Gangguan tidur juga sering terjadi akibat ketidaknyamanan fisik maupun perubahan suasana hati yang membuat ibu sulit beristirahat dengan nyenyak.
5. Kembalinya Kesuburan dan Siklus Menstruasi
Selama menyusui, hormon yang bertugas menekan ovulasi bekerja sehingga menstruasi bisa tertunda. Setelah berhenti menyusui, siklus menstruasi dan ovulasi kembali normal, yang berarti kesuburan juga kembali meningkat. Hal ini penting diketahui oleh ibu dan pasangan untuk perencanaan keluarga, agar tidak terjadi kehamilan yang tidak direncanakan.
Berhenti menyusui adalah proses yang alami, namun menimbulkan berbagai perubahan pada ibu baik fisik maupun emosional. Memahami perubahan ini dapat membantu ibu mempersiapkan diri dan mencari dukungan yang tepat, termasuk berkonsultasi dengan tenaga medis jika diperlukan, agar proses menyapih berjalan nyaman dan sehat.***
Editor : Alysa
Sumber : idntimes.com














