NARASITODAY.COM, HAVANA – Kuba kembali mengalami pemadaman listrik berskala nasional setelah Sistem Kelistrikan Nasional (Sistema Eléctrico Nacional/SEN) mengalami gangguan pada Selasa waktu setempat. Pemadaman ini menjadi yang ketiga dalam dua pekan terakhir, memperpanjang krisis energi yang telah menekan kehidupan masyarakat di negara kepulauan Karibia tersebut.
Gangguan terbaru terjadi ketika Kuba masih menghadapi keterbatasan pasokan bahan bakar akibat kondisi ekonomi yang memburuk dan hambatan terhadap impor energi. Minimnya pasokan membuat pembangkit listrik kesulitan beroperasi secara optimal.
Situasi semakin sulit setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Januari mengancam akan menerapkan tarif terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Kuba. Kebijakan tersebut menambah tekanan terhadap negara yang selama ini bergantung pada impor energi.
Akibat krisis bahan bakar, layanan transportasi umum mengalami gangguan, sementara pemerintah harus menunda puluhan ribu prosedur operasi medis karena keterbatasan pasokan listrik.
Pemerintah Kuba memperkirakan produksi minyak dalam negeri saat ini hanya mampu memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan energi nasional. Kondisi tersebut membuat negara itu semakin bergantung pada pasokan dari luar negeri.
Perusahaan listrik negara Electric Union menjelaskan, pemadaman terbaru dipicu gangguan pada salah satu unit pembangkit di Provinsi Holguín, wilayah timur Kuba. Gangguan tersebut menyebabkan perubahan frekuensi secara tiba-tiba hingga membuat jaringan listrik nasional mengalami keruntuhan sekitar tengah hari.
Kementerian Energi dan Pertambangan Kuba bersama Electric Union kemudian menjalankan prosedur pemulihan darurat dengan membangun sejumlah microgrid atau jaringan listrik kecil yang dapat beroperasi secara terpisah sebelum disambungkan kembali ke sistem utama.
“Prioritas utama diberikan kepada fasilitas vital seperti rumah sakit dan pabrik pengolahan makanan,” demikian pernyataan pemerintah, dikutip laman AP, Rabu (15/7/2026).
Pemulihan listrik berlangsung secara bertahap. Di Havana, sebagian wilayah mulai kembali mendapat pasokan listrik pada sore hari, meski baru sekitar 4 persen kawasan ibu kota yang teraliri listrik.
Sejumlah wilayah lain seperti Guantánamo dan Cienfuegos juga melaporkan beberapa fasilitas kesehatan mulai kembali memperoleh pasokan listrik. Sementara itu, kawasan pusat bersejarah Kota Matanzas telah kembali mendapatkan aliran listrik.
Warga Mulai Terbiasa dengan Gelap
Pemadaman terbaru menambah daftar panjang krisis energi Kuba sepanjang 2026. Dalam satu pekan sebelumnya, dua pemadaman nasional terjadi pada Senin dan Jumat yang membuat lebih dari 9 juta penduduk kehilangan akses listrik.
Gangguan serupa juga terjadi pada Maret lalu, disusul berbagai pemadaman regional di sejumlah wilayah.
Dampaknya terasa hampir di seluruh sektor kehidupan. Selain menghambat transportasi, krisis listrik menyebabkan pengurangan jam kerja, pembatalan penerbangan, hingga gangguan layanan kesehatan dan komunikasi.
Bagi sebagian warga Havana, pemadaman listrik kini bukan lagi kejadian luar biasa, melainkan bagian dari rutinitas harian.
“Pemadaman listrik seperti ini sekarang sudah normal di Kuba. Kalau justru tidak terjadi apa-apa, itu baru terasa aneh,” kata Roberto Liana (69), seorang pegawai toko ritel.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat mulai mencari cara untuk bertahan. Sebagian keluarga memasang panel surya dan baterai portabel sebagai sumber listrik cadangan ketika jaringan nasional kembali padam.
Sayli Aguilera (25), seorang ibu dua anak, mengatakan keluarganya hanya bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang ada.
“Kami berimprovisasi dan melakukan apa pun yang kami bisa,” ujarnya.
Selain rumah tangga, perubahan juga terlihat pada sektor transportasi. Sebagian warga mulai menggunakan kendaraan listrik seperti sepeda motor listrik dan becak roda tiga bertenaga listrik yang memanfaatkan panel surya sebagai alternatif mobilitas.***
Editor : Alysa
Sumber : cnbcindonesia.com














