NARASITODAY.COM, CHICAGO – Lantai bursa komoditas global kembali bergejolak seiring dengan memanasnya tensi geopolitik di Eropa Timur. Harga gandum dunia dilaporkan melonjak lebih dari 2 persen pada penutupan perdagangan Jumat (10/07/2026). Lonjakan ini dipicu oleh kecemasan pasar yang mendalam setelah adanya laporan eskalasi pertempuran baru dalam perang Rusia-Ukraina.
Berdasarkan data perdagangan, kontrak gandum paling aktif di Chicago Board of Trade (CBOT) melesat 2,14 persen ke level US$ 6,33 per bushel. Angka ini sempat menyentuh puncaknya di level US$ 6,3375 per bushel, yang merupakan rekor tertinggi sejak 27 Mei lalu. Setali tiga uang, gandum berjangka Euronext untuk pengiriman September di pasar Eropa juga ikut terbang sekitar 3 persen.
Kepanikan pasar kali ini bersumber dari riak wilayah perairan Laut Azov sebuah jalur krusial yang terhubung langsung dengan Laut Hitam, tempat urat nadi ekspor pangan dunia milik Rusia dan Ukraina berada.
Kabar bahwa Ukraina melancarkan serangan udara terhadap sejumlah kapal tanker Rusia di kawasan tersebut langsung menyulut kekhawatiran akan macetnya pelayaran logistik biji-biji dunia.
“Terjadi sesuatu di Laut Azov,” ungkap seorang trader gandum asal Eropa, menggambarkan situasi genting yang langsung direspons cepat oleh sentimen pasar.
Menanti Rapor Pasokan dari Amerika Serikat
Di tengah bayang-bayang perang, para pelaku pasar juga mulai mengetatkan posisi mereka untuk mengantisipasi rilis laporan bulanan pasokan dan permintaan pertanian global dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA).
Laporan ini diproyeksikan akan menunjukkan penurunan cadangan gandum AS secara signifikan, menyusul hasil survei akhir Juni yang mencatatkan penyusutan luas tanam gandum di luar perkiraan pasar.
Berbeda nasib dengan gandum, pergerakan harga komoditas pangan lainnya seperti jagung dan kedelai cenderung bergerak di tempat. Kontrak jagung CBOT hanya menguat tipis 0,39 persen ke posisi US$ 4,5375 per bushel, sementara kedelai jalan di tempat dengan kenaikan minor 0,02 persen di level US$ 11,8175 per bushel.
Saat ini, para petani dan pelaku usaha komoditas tersebut masih waswas mengamati pergeseran cuaca di wilayah Midwest Amerika Serikat selaku sentra produksi utama mereka, sembari terus membaca sinyal pergerakan permintaan dari raksasa Asia, China.
Sementara itu dari benua biru, dilaporkan kontrak jagung Paris ditutup naik 1,18 persen menjadi 235,50 euro per ton. Sebaliknya, harga komoditas rapeseed justru harus rela terkoreksi tipis 0,34 persen dan bertengger di level 517,25 euro per ton.***
Editor : Alysa
Sumber : kontan.co.id














