Guncangan Perang Timur Tengah Menghantam Perekonomian Global, dari Lonjakan Minyak hingga Antrean BBM

0
energi
Ilustrasi industri minyak. Foto : Istock

NARASITODAY.COM, JAKARTA – Eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini mulai mengirimkan gelombang kejut yang merambat ke dapur-dapur warga hingga lantai bursa dunia. Laporan terbaru per Rabu (11/3/2026) menunjukkan ekonomi global sedang berada di titik nadir akibat gangguan pasok energi dan ancaman inflasi yang menghantui berbagai benua.

Kilang Terbakar dan Langit yang Tak Lagi Aman

Ketegangan tak lagi sekadar retorika di meja diplomasi. Di Uni Emirat Arab (UEA), sebuah kilang minyak terbesar terpaksa berhenti beroperasi setelah serangan drone memicu kebakaran hebat. Seorang pekerja di kompleks tersebut menggambarkan suasana mencekam saat ledakan terjadi.

“Ada suara keras seperti ledakan. Saya melihat semburan api yang menjulang dari kompleks tersebut,” ungkap pengemudi yang meminta identitasnya dirahasiakan kepada AFP.

Baca Juga :  Anwar Ibrahim Kritik Standar Ganda Barat, Singgung Pembatalan Kontrak Pertahanan Malaysia-Norwegia

Tak hanya di darat, jalur pelayaran Selat Hormuz pun kian membara. UKMTO melaporkan dua kapal kargo dihantam proyektil misterius di lepas pantai UEA. Sementara itu, Arab Saudi harus bekerja ekstra keras mencegat sedikitnya tujuh drone yang membidik ladang minyak Shaybah di wilayah tenggara.

Dampak nyata mulai dirasakan konsumen di berbagai negara. Mesir secara mendadak menaikkan harga BBM domestik hingga 30%, sebuah alarm “luar biasa” bagi rakyatnya. Di Pakistan, para sopir truk tanker harus bermalam di pinggir jalan dekat Lahore karena depot-depot mulai mengering.

Bahkan di Eropa, kecemasan akan kembalinya hantu inflasi mulai terasa. Kepala Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde, menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas kawasan agar tidak terjatuh ke lubang yang sama seperti tahun 2022.

“Kami akan melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk menjaga inflasi tetap terkendali dan memastikan bahwa Prancis dan Eropa tidak mengalami peningkatan inflasi seperti yang kita lihat pada tahun 2022 dan 2023,” tegas Lagarde kepada penyiar Prancis.

Baca Juga :  Krisis LPG India Memaksa Warga Miskin Kembali ke Kayu Bakar, Polusi Udara New Delhi Kian Mencekik

Langkah Darurat: Rekor Pelepasan Cadangan Minyak

Menanggapi harga Brent yang kembali merangkak naik ke angka US$85 per barel, Badan Energi Internasional (IEA) mengusulkan manuver radikal: melepaskan cadangan minyak terbesar sepanjang sejarah. Langkah ini diperkirakan akan melampaui rekor 182 juta barel yang pernah dilepaskan saat invasi Rusia ke Ukraina.

Indikator Ekonomi Perkembangan Terkini (Maret 2026)
Harga Minyak Brent Naik 1,8% (> US$85/Barel)
Bursa Saham Seoul Melonjak > 5% (Reaksi fluktuatif)
Harga BBM Mesir Naik signifikan sebesar 30%
Pasokan Gas Eropa Turun 15% (Meredakan kepanikan sesaat)

Simpang Siur di Selat Hormuz

Baca Juga :  Kemnaker Dorong Perusahaan Sediakan Fasilitas Penitipan Anak untuk Tingkatkan Produktivitas dan Kesejahteraan Keluarga

Di tengah kekacauan ini, informasi mengenai pengamanan jalur laut sempat simpang siur. Gedung Putih membantah klaim sebelumnya bahwa Angkatan Laut AS melakukan pengawalan tanker, sementara pihak Iran menyatakan Selat Hormuz praktis tertutup bagi lawan. Presiden AS Donald Trump pun mengeluarkan peringatan keras agar Teheran tidak menanam ranjau di jalur vital tersebut.

“Dua drone yang menuju ladang minyak Shaybah dicegat dan dihancurkan,” tulis kementerian pertahanan Saudi dalam pernyataan resminya di media sosial X, menegaskan bahwa fasilitas energi kini telah menjadi garis depan pertempuran.

Saat para pemimpin G7 bersiap melakukan konferensi video darurat, dunia kini hanya bisa menunggu apakah koordinasi ekonomi global mampu meredam gejolak ini, atau justru krisis energi yang lebih besar tengah mengintai di depan mata.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com