Gelombang Panas Ekstrem di Jerman Diperkirakan Tewaskan 5.120 Orang, Lansia Jadi Korban Terbanyak

0
panas
Ilustrasi Orang-orang di taman umum pada hari yang cerah di dekat Museum Island dan Katedral Berlin.Foto : Istock

NARASITODAY.COM, BERLIN – Musim panas yang seharusnya disambut hangat kini berubah menjadi duka kelam di Jerman. Lembaga kesehatan publik nasional, Robert Koch Institute (RKI), melaporkan estimasi mengejutkan yaitu sebanyak 5.120 orang meninggal dunia akibat gelombang panas ekstrem yang menyapu negara itu sepanjang tahun ini.

Keheningan kota-kota di Jerman pada akhir Juni lalu ternyata menyimpan tragedi. Saat itu, termometer melonjak drastis, memaksa suhu rata-rata mingguan meroket jauh di atas 20 derajat Celsius. Sengatan udara panas ini menjadi pembunuh senyap, terutama bagi mereka yang rentan.

Mengutip laporan Reuters, Jumat (10/07/2026), mayoritas korban jiwa didominasi oleh kelompok lansia berusia 75 tahun ke atas, dengan angka mencapai sekitar 4.270 kematian. Di antara angka tersebut, kaum perempuan menjadi korban terbanyak sebuah realitas pilu yang disebabkan oleh lebih banyaknya populasi wanita di usia senja.

Baca Juga :  Diguncang Protes Anti-Korupsi Terbesar, Presiden Bulgaria Tuntut Pemerintah Mundur

Tragedi ini bukan hanya milik Jerman. Berdasarkan konfirmasi dari Copernicus Climate Change Service Uni Eropa (UE), Eropa Barat baru saja melewati bulan Juni terpanas sepanjang sejarah, dengan suhu rata-rata menyentuh 20,74 derajat Celsius.

Di negara tetangga seperti Prancis, Belgia, Spanyol, dan Belanda, otoritas setempat juga mencatat lebih dari 4.700 kematian berlebih selama puncak gelombang panas pada 20-28 Juni lalu.

Meskipun data historis RKI menunjukkan angka ini belum melampaui rekor kelam tahun 2018 (8.400 kematian) dan 2019 (6.900 kematian), situasi di lapangan tetap mencekam dan memicu alarm bahaya bagi fasilitas kesehatan.

“Situasi panas saat ini tetap kompleks dan jelas bahwa kondisi fasilitas publik telah memicu kekhawatiran,” ungkap RKI dalam laporan mingguan resminya yang menyoroti lonjakan angka kematian lansia tersebut.

Baca Juga :  Perjuangan Panjang Pasangan Klarsfeld dalam Mengadili Penjahat Perang Nazi

Badai Politik di Bundestag

Bencana kemanusiaan ini mendadak menyulut api perdebatan sengit di parlemen Jerman (Bundestag). Pusat kemarahan publik tertuju pada kota Cologne, di mana 120 orang tewas hanya dalam satu akhir pekan (27-28 Juni) sebuah lonjakan kematian empat kali lipat dari kondisi normal.

Pemimpin partai Greens, Katharina Droege, langsung melayangkan kritik tajam. Ia mengecam Kanselir Friedrich Merz yang dinilai bungkam dan belum memberikan pernyataan publik sama sekali terkait krisis ini.

Droege menuduh pemerintah sengaja memperlemah undang-undang perlindungan iklim demi menambal defisit anggaran negara. Caranya, dengan memangkas dana lingkungan hidup senilai miliaran euro dari Dana Iklim dan Transformasi (KTF).

Baca Juga :  Ternyata Ini 5 Spesies Hewan yang Takut Garam dan Alasannya!

Kebijakan ini dinilai ironis, sebab Jerman awalnya berkomitmen mengalokasikan 8 miliar euro demi mengejar target pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 65% pada tahun 2030. Saat ini, pencapaian tersebut mandek di angka 48%.

“Sangat disayangkan, karena jika para ahli strategi pemerintah berhenti dan berpikir sejenak, mereka mungkin tidak akan membuat keputusan tidak bertanggung jawab yang mengorbankan dana perlindungan iklim,” kecam Droege dalam debat parlemen yang menyoroti pemotongan anggaran KTF tersebut.

Kini, di tengah pusaran infografis kematian dan suhu yang terus menyengat, publik Jerman mendesak pemerintah untuk tidak hanya melihat krisis iklim sebagai angka di atas kertas anggaran, melainkan sebagai ancaman nyata yang sedang merenggut nyawa kakek dan nenek mereka.***

Editor : Alysa

Sumber : cnbcindonesia.com